KOTABARU - Keluhan klasik para nelayan Kotabaru terkait Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar Bersubsidi, tampaknya segera menemui titik terang.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotabaru bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotabaru diketahui sudah melayangkan ajuan krusial ke Migas Pusat.
Tujuannya, penambahan empat titik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) baru dan kuota solar bersubsidi yang lebih banyak.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perikanan Kotabaru, Khairil Fajri, kepada Radar Banjarmasin, Rabu (10/12/2025) sore.
Fajri optimistis usulan ini bisa direalisasikan tahun depan. “Kami sudah ajukan penambahan empat titik SPBN baru. Kita berharap tahun depan bisa langsung terealisasi, mengingat jumlah nelayan Kotabaru yang terdaftar saja sudah belasan ribu,” tegas Khairil Fajri.
Menurut Fajri, keluhan terkait kelangkaan solar selalu muncul, dan Pemkab maupun DPRD Kotabaru menyaksikan sendiri kesulitan yang dialami para nelayan.
Oleh karena itu, selain SPBN baru, kuota solar bersubsidi juga diusulkan untuk ditambah secara signifikan.
Meskipun realisasi sepenuhnya bergantung pada keputusan Pusat, Fajri menegaskan bahwa lobi-lobi terus dilakukan.
“Lobi-lobi dari pimpinan kita, Bupati H Muhammad Rusli dan pihak Pimpinan DPRD Kotabaru, khususnya Komisi II, diketuai Abu Suwandi sangat getol memperjuangkan ini. Kami minta nelayan bersabar dan mohon doanya agar bisa dipenuhi, karena semua keputusan ada di Pusat,” pintanya.
Ia juga berpesan agar para nelayan segera melengkapi identitas dan surat-menyurat. "Seringkali ada kendala administrasi. Jika ada keluhan, bisa datang berkonsultasi ke Dinas Perikanan," imbuhnya.
Di sisi lain, Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (Insan) Kotabaru, Hamdani yang mewakili ribuan anggotanya menyambut baik kabar ini. Permasalahan BBM solar bersubsidi baginya adalah keluhan yang sudah sangat sering disuarakan dan sangat mendesak.
“Mudahan apa kata Dinas ini benar-benar terwujud, dan kami mohon untuk yang di Pusat juga bisa dikabulkan. Kami begitu sangat membutuhkan solar bersubsidi ini,” mohon Hamdani.
Hamdani membenarkan meskipun sudah ada solar bersubsidi, tapi jumlahnya masih sangat kurang. Bahkan, tak jarang anggota Insan terpaksa tidak melaut.
“Kadang kami harus libur melaut karena solar yang dijual di eceran mahal sekali, dan seringkali juga kehabisan stok,” keluhnya.
Editor : Fauzan Ridhani