KOTABARU - Pemandangan lantai rumah terendam air laut disertai sampah di penghujung tahun sudah menjadi rutinitas bagi warga pesisir Kabupaten Kotabaru.
Seperti beberapa hari terakhir ini, banjir rob (air pasang laut) kembali melanda wilayah ini, bahkan lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.
Usai magrib, air laut pasang menyerbu permukiman dan jalan raya, melumpuhkan roda perekonomian dan aktivitas warga.
Saat senja, genangan air sudah menutupi sebagian badan jalan, tak terkecuali di tikungan Jalan Siring Laut. Pengendara harus menerobos genangan air asin.
Tingginya Rob membuat beberapa wilayah terkepung air. Di Kampung Sasak, ketinggian air sudah masuk ke dalam rumah. Kawasan Kotabaru Tengah hampir seluruhnya dikelilingi genangan karena memang posisinya yang sangat dekat dengan laut.
Paling parah, jalan aspal di dekat siring, di depan Pelabuhan, dilaporkan tidak bisa dilalui. Dampak genangan meluas dari warung sederhana hingga depan bekas Bank Mandiri atau Toko 35 ribuan.
"Malam Senin dan malam Selasa sudah mulai berkurang, tapi banjir rob ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Jalan semua gang di Rampa tenggelam, padahal tahun dulu tidak," keluh Hamdani, salah satu warga Desa Rampa, Selasa (9/12).
Dampak rob ini bukan lagi dalam hitungan ratusan, tetapi sudah mencapai ribuan rumah yang tersebar di Pulau Laut Utara. Daerah terdampak parah antara lain Desa Hilir Muara, Rampa, Semayap, Dirgahayu, hingga Sungai Taib, dan seluruh wilayah pesisir lainnya di Kotabaru.
Warga di kawasan paling rendah, seperti di Perikanan, Barak, dan Hilir, harus menghadapi air pasang setiap hari. Masyarakat tetap bertahan di rumah masing-masing, meski dihantui rasa waswas.
"Kami takutkan kalau angin kencang, badai, rumah kami bisa hancur, apalagi kalau ombak besar," tambah Hamdani khawatir.
Menyikapi kondisi ini, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kotabaru, Latifu Arsyiono mengeluarkan peringatan.
"Informasi dari BMKG jelas. Potensi cuaca ekstrem meningkat drastis. Jangan sampai lengah, ini bukan sekadar hujan biasa," tegas Latifu.
Risiko banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang akibat hujan badai dan angin kencang yang datang tiba-tiba.
Masyarakat diimbau waspada penuh saat air laut memasuki fase pasang tertinggi. Larangan juga dikeluarkan untuk nelayan. Dilarang memaksakan diri melaut jika gelombang tinggi dan cuaca buruk.
Selain itu, warga juga diminta mematikan colokan listrik di bawah saat air laut sedang pasang, mengamankan harta benda dan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi.
BPBD memastikan timnya siaga penuh 24 jam. Masyarakat diimbau untuk aktif berpartisipasi dan segera melapor jika terjadi bencana ke Call Center BPBD Kotabaru di 0811-4406-611.
Editor : Muhammad Syarafuddin