Abuya, demikian beliau akrab disapa, meninggal sekitar pukul 21.00 WITA di RSI Sultan Agung Banjarbaru.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Majlis Taklim Sabilal Anwar Al-Mubarak Martapura, para santri, serta masyarakat yang selama puluhan tahun mendapat bimbingan ilmunya.
Baca Juga: Banua Berduka, Ulama Besar Abuya KH M Sukri Berpulang di Usia 77 Tahun
Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Banjar, Muhammad Fahrie (26), menjadi salah satu yang merasakan kehilangan besar tersebut.
“Bagi kami para alumni Darussalam, beliau ulama sepuh yang sangat produktif menulis dan sangat ramah kepada murid-muridnya. Teladannya tidak pernah lekang,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Fahrie mengenang perjalanan panjang keilmuan Abuya. Lahir di Desa Harus, Amuntai Tengah, pada 5 Oktober 1948, KH Syukri Unus dikenal sebagai pelajar cerdas sejak usia muda.
Baca Juga: Jalan Banjarbaru-Batulicin Terputus 4 Jam Akibat Banjir di Pengaron
Pada 1963, beliau merantau ke Martapura untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam. “Martapura itu gudangnya ulama, dan Abuya belajar kepada banyak guru besar,” tutur Fahrie.
Deretan guru yang membentuk karakter intelektual dan spiritual Abuya sangat panjang. Di antaranya Kyai Gusti Imansyah, Kyai Rafi’i Keraton, Kyai Husin Dahlan, Kyai Sya’rani Arif, Kyai Ramli Keraton, Guru Sekumpul, hingga Kyai Abdul Qodir.
Dari merekalah Abuya tumbuh sebagai ulama produktif yang menulis puluhan kitab rujukan, mulai ilmu nahwu, faraidh, manthiq, balaghah, tauhid, hingga fikih ibadah.
Baca Juga: Pemkab Tabalong Pecahkan Rekor MURI Penyajian 19.497 Porsi Paliat
“Beliau menulis bukan untuk dikenal, tapi untuk menjaga tradisi ilmu. Bahkan di usia sepuh, Abuya tetap menulis. Itu sebabnya beliau sangat dihormati,” ucap Fahrie.
Kitab-kitab seperti Is’af at-Thalibin, Miftah al-Ilmil Mantiq, Asrar as-Saum, hingga Irsyad al-Aulad kini digunakan luas di pesantren Kalsel.
Selain mengajar di Pesantren Darussalam, Abuya memimpin Majlis Raudatul Anwar Al-Mubarak serta Majelis Darussyakirin, tempat beliau menyampaikan ilmu dengan kelembutan khasnya.
Baca Juga: Dua Pengedar Sabu Ditangkap Polres HSU, Satu Pelaku dari Semarang
Kiprahnya di Nahdlatul Ulama juga panjang, mulai Katib Tsani Syuriah PWNU Kalsel, A’wan Syuriah PBNU, hingga Mustasyar PBNU.
Kabar wafatnya pertama kali diterima dari menantunya, Ustadz Abdussalam, dan langsung menyebar cepat. “Ucapan duka mengalir dari berbagai penjuru,” kata Fahrie.
Jenazah disemayamkan Senin sore di Majlis Darussyakirin Antasan Senor, Martapura, tempat Abuya mengajar selama puluhan tahun.
Baca Juga: Tips Aman Terobos Banjir Rob Banjarmasin agar Motor Tidak Mati Mendadak
“Pemakaman di majelisnya sendiri adalah simbol bahwa Abuya selalu kembali kepada umat yang beliau layani,” tambahnya.
Kepergian Abuya menyisakan ruang kosong bagi keluarga besar pesantren dan ribuan muridnya. Namun, warisan ilmunya diyakini akan terus hidup.
“Semoga Allah menerima amal dan perjuangan beliau. Kami para murid hanya bisa melanjutkan apa yang sudah beliau contohkan,” tutup Fahrie. (*)
Editor : M. Ramli Arisno