BANJARBARU – Mantan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan sekaligus mantan Wali Kota Banjarbaru, Rudy Resnawan menyoroti rencana proyek stadion bertaraf internasional yang akan dibangun di Jalan Lingkar Utara, Landasan Ulin Barat, Kota Banjarbaru.
Ia menegaskan pembangunan stadion tidak hanya fokus pada penyelenggaraan event, tetapi harus memiliki fungsi berkelanjutan bagi masyarakat.
Rudy mencontohkan sejumlah stadion di berbagai daerah yang hanya ramai saat ada pertandingan, namun kemudian terbengkalai.
“Kenapa stadion terbangun, setelah dipakai event kembali mati? Apa Banjarbaru ingin seperti itu?” ujarnya.
Menurutnya, lokasi stadion menjadi salah satu faktor menentukan. Ia menilai stadion harus berada di kawasan yang mudah diakses masyarakat agar aktivitas olahraga dapat berjalan setiap hari, bukan sekadar saat ada pertandingan sepak bola berlangsung.
Rudy menyoroti konsep Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang dinilainya hidup sepanjang waktu karena lokasinya strategis.
"GBK itu setiap sore selalu dipakai berolahraga. Kalau letaknya jauh, apa mau orang ke sana hanya untuk berolahraga?” katanya.
Rudy juga mempertanyakan kesiapan lahan dan kondisi lingkungan di sekitar lokasi stadion.
Rudy menyebut kawasan yang berada dekat hutan lindung memiliki fungsi resapan yang harus diperhatikan.
“Tanah itu belum tentu langsung jadi. Itu berdekatan dengan hutan lindung dan rawa, jadi benar-benar perlu kajian,” ucapnya.
Ia menekankan, pembangunan stadion membutuhkan anggaran besar, sehingga manfaat jangka panjang wajib diperhitungkan.
“Jangan cuma pada saat event saja. Karena biayanya triliunan rupiah,” tegasnya.
Belajar dari sejumlah kota besar dan negara lain, Rudy menilai stadion idealnya dibangun di pusat aktivitas masyarakat, bukan di pinggiran kota.
“Supaya stadion itu hidup. Kalau tidak, lama-lama akan mati,” imbuhnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin