Kuda bolong adalah saudagar kaya raya yang datang dari seberang lautan, ia jauh-jauh bersandar ke wilayah pesisir Pagatan, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan hanya untuk mempersunting tuan putri.
Di kerajaan Putri Rakyah, ia kerap mengacau dan membuat onar bersama anak buahnya, lantaran putri selalu menolak pinangannya.
Kondisi ini makin hari bikin sang putri tambah tertekan, masalah satu belum selesai muncul lagi masalah kedua, tuan putri makin tidak menyukai sang saudagar.
Akibat sering dipaksa, tuan putri akhirnya keceplosan satu syarat. Jika Kuda Bolong berhasil menemukan ayah dari Putri Rakyah, maka ia bersedia menerima lamaran.
Hari-hari putri lalui dengan mata sembab. Kabar pencarian si ayah membuat Saruni pemuda Bajau dari Kotabaru merasa prihatin.
Saruni yang merupakan pemuda baik dan tampan berniat melakukan pencarian, ia tak menyelipkan sedikitpun niat licik seperti Kuda Bolong.
Tanpa maksud serupa saudagar, Saruni ternyata berhasil menemukan ayah tuan putri di dalam goa, usai melakukan pertapaan dan merubah diri menjadi burung.
Kabar kembali ayahnya Tuan Putri Rakyah bersama Saruni akhirnya terdengar oleh Kuda Bolong yang langsung naik pitam.
Di tengah momen haru dan bahagia itu Kuda Bolong mengacau suasana, ia merebut sang ayah dan mengancam akan melukainya.
Merasa terdesak, pertarungan tidak seimbang pun terjadi antara Saruni dan Kuda Bolong beserta anak buahnya.
Meski kalah jumlah, Saruni dengan kesaktiannya mampu merebut kembali ayah sang tuan putri. Kuda Bolong terpaksa pulang ke tempat asalnya dengan kekalahan.
Selain menemukan dan menyelamatkan kerajaan, Saruni juga mampu membuat tuan putri akhirnya kasmaran, pahlawan dari Bajau itu akhirnya bersanding dan menikahi Putri Rakyah.
Dan itulah karangan fiksi yang dikemas jadi cerita rakyat dalam pertunjukan Opera Banjar pada Banua Creative Festival yang digelar di Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin. Jumat (5/12/2025) malam.
Putri Rakyah yang diperankan oleh Rabiah bukan hanya mesti pandai beradu akting, tapi dituntut tampil dengan emosi yang turun naik di bawah kolaborasi lima muatan seni.
“Sungguh terharu, senang, bahagia karena ini benar- benar pertama kali memerankan karakter utama yang sifat emosinya campur aduk. Sulit,” ujar Rabiah usai pertunjukan.
Tak cuma cermat menghayati emosi sedih dan bahagia, Rabiah jua apik menyambut musik dengan melantunkan syair bernadakan lembut dan nyanyian saat beradu akting di hadapan ribuan penonton.
“Rasanya gugup banget. Harus berperan, nyanyi, ekspresi perlu ada takaran peradegannya. Tapi berkat sering latihan jadi terbiasa mengontrol emosi,” ucap wanita 23 tahun ini.
Rabiah mengaku, ini pengalaman pertamanya memerankan karakter dengan ekspresi seperti Putri Rakyah, bukan seperti acil warung galak ataupun cewek centil di teater sebelumnya.
“Harus menghayati sekali, tapi akhirnya saya bangga. Opera Banjar kaya dengan selipan budayanya,” jelas Rabiah.
Ketua Sanggar Budaya Kalsel, Elly Adjim Arijadi mengatakan Opera Banjar dengan judul Saruni Pahlawan Bajau bukan hanya sekedar cerita rakyat, tapi kaya selipan budaya dan nilai moral.
Naskah Saruni Pahlawan Bajau merupakan karya pendiri Sanggar Budaya Kalsel, almarhum Adjim Arijadi pada 1988.
Terlebih, dalam kisah ini penulis mengambil Suku Bajau yang hidup tinggal sangat dekat dengan lautan di wilayah Kalimantan Timur dan Selatan, tepatnya Kabupaten Kotabaru.
“Naskah ini sudah dibawa ke Solo, Tenggarong, Jogja, Surabaya, NTB dan Banjarmasin. Sudah ada sinetron tapi versi lama, mungkin kita buat sinetron yang baru atau film yang bertemakan daerah,” terang Elly.
Opera Banjar ini mengkolaborasikan antara sastra, tari, musik, teater dan seni rupa. Sehingga ia berharap, pertunjukan ini dapat diminati terutama oleh kalangan muda.
“Tentu saja kita ingin semua yang kita bikin tidak hanya selesai di sini. Kebetulan ini juga untuk ulang tahun Sanggar yang menginjak 58 tahun. Kami hanya penerus dari Abah Adjim dan kami tidak ingin lepas dari kekaryaan dari abah,” tandas Elly.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalsel, M Syarifuddin dan Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Iwan Fitriyadi menyaksikan pertunjukan ini hingga lebih selesai.
Kadispar mengapresiasi pertunjukan Opera Banjar ini. Ia menilai opera ini bukan hanya kaya akan selipan budaya banjar, tapi tempat unjuk gigi dan berkolaborasinya para seniman Banua.
“Barang kali kita sering menyaksikan opera tapi ini opera yang dikemas sangat apik, kita menikmati pertunjukannya,” tutup Iwan.
Editor : Sutrisno