Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Teror Kera Liar Aluh-Aluh Makin Brutal, 10 Warga Terluka

M Fadlan Zakiri • Rabu, 3 Desember 2025 | 19:26 WIB

MERESAHKAN: Monyet atau kera liar yang sempat dievakuasi di Kecamatan Aluh-Aluh.
MERESAHKAN: Monyet atau kera liar yang sempat dievakuasi di Kecamatan Aluh-Aluh.
MARTAPURA – Teror serangan kera liar di Kecamatan Aluh-Aluh dan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, kian brutal dan menimbulkan kepanikan massal.

Tidak hanya memakan banyak korban, ancaman serangan yang dapat terjadi kapan saja membuat warga terpaksa membawa parang dan balok kayu setiap kali keluar rumah.

Zakaria, warga Desa Simpang Warga Dalam, mengatakan serangan monyet terjadi tanpa mengenal waktu—siang, sore, bahkan malam hari. Kondisi ini memaksa warga selalu waspada dan membawa senjata tajam untuk perlindungan diri.

Baca Juga: Sidak Agen LPG 3 Kg, DKUMPP Banjar Temukan Semua Timbangan Akurat

"Minimal kami bawa parang atau balokan. Karena tidak tahu kapan dia menyerang," ujarnya, Rabu (3/12) sore.

Bahkan untuk tidur siang pun, warga tidak bisa tenang lagi. Mereka khawatir ada monyet yang masuk ke rumah dan menyerang secara mendadak.

"Minimal harus ada pisau atau alat pemukul di samping. Buat jaga-jaga kalau ada (monyet) yang masuk ke rumah," beber Zakaria.

Baca Juga: Banjir Rendam Puluhan Rumah di Balai Pangeran Paringin Selatan

Ia mengaku puluhan tahun tinggal di Aluh-Aluh, baru kali ini ada monyet yang berani menyerang manusia bahkan sampai melukai anak-anak. Padahal, selama ini warga hidup berdampingan dengan monyet liar tanpa masalah berarti.

"Dulu kami hidup berdampingan dengan monyet liar. Tapi yang ini sangat parah," tegasnya.

Ketakutan warga mencapai puncak karena sebagian besar korban diserang secara tiba-tiba. Orang dewasa mungkin masih bisa berlari, namun anak-anak menjadi kelompok paling rentan.

Baca Juga: Kejari Tala Selamatkan Aset Negara Rp522,8 Miliar Milik Inhutani I

"Yang kami takutkan anak-anak kami. Mereka tidak bisa lari. Kalau diserang tiba-tiba, pasti diterkam," kata Zakaria.

Warga kini membatasi kegiatan di luar rumah, terutama menjelang sore. Beberapa keluarga bahkan melarang anak-anak bermain di luar rumah, hingga menutup pintu dan jendela rumah rapat-rapat.

Camat Aluh-Aluh Aditya Yudi Dharma membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan keresahan warga telah berlangsung sekitar satu bulan. Polsek Aluh-Aluh sebelumnya sudah mengevakuasi satu ekor monyet ekor panjang, namun serangan tetap berlanjut.

Baca Juga: Wisatawan Susur Sungai Masih Suka Duduk di Atap Kelotok Meski Ada Larangan

"Data terakhir yang masuk dari Puskesmas Aluh-Aluh sudah sampai 10 orang. Rata-rata anak-anak dan lansia yang jadi korban," ujarnya.

Rencananya, akan ada langkah preventif dari pihak yang profesional seperti tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel dan Animal Rescue Banjarmasin untuk menangani masalah ini secara komprehensif.

Aditya menekankan bahwa persoalan monyet liar bukan hanya isu keamanan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan warga, potensi kerusakan tanaman, serta kenyamanan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Baca Juga: Peduli Bencana Sumatera, Gubernur Kalsel Ajak ASN dan BUMD Galang Bantuan untuk Korban Bencana

"Karena itulah diperlukan langkah-langkah terpadu yang melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah kecamatan, aparat desa, lembaga terkait, hingga perwakilan masyarakat," ungkapnya.

Dalam pertemuan antar instansi yang digelar siang tadi, pihaknya membahas berbagai strategi penanganan. Mulai dari pemetaan lokasi yang rawan gangguan monyet, identifikasi penyebab meningkatnya populasi, hingga upaya jangka pendek dan jangka panjang yang dapat dilakukan.

Beberapa alternatif solusi yang didiskusikan termasuk sosialisasi kepada masyarakat mengenai langkah mitigasi, penguatan koordinasi lintas instansi, serta kemungkinan kerja sama dengan pihak konservasi untuk penanganan satwa yang lebih profesional dan tepat sasaran.

Baca Juga: DPRD HST Belajar Kelola Lahan Pertanian Berkelanjutan ke Banjar

Peserta rapat juga menyampaikan laporan kondisi di masing-masing wilayah, termasuk intensitas kemunculan monyet, dampak terhadap lahan pertanian, dan keluhan warga yang semakin meningkat.

Aditya mengharapkan hasil rapat tersebut dapat menjadi dasar pembentukan langkah konkret yang segera ditindaklanjuti, agar permasalahan monyet liar dapat diminimalisir dan rasa aman masyarakat kembali terjaga.

"Kami berharap upaya ini bisa segera mengakhiri teror kera liar yang telah menghantui selama sebulan terakhir," harapnya.

Baca Juga: Peringati Hari Disabilitas International, BSI Tingkatkan Layanan Ramah Difabel

Kasi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalsel, Junaedy Slamet Wibowo, menjelaskan bahwa peningkatan agresivitas primata biasanya berkaitan dengan musim kawin. Saat musim kawin tiba, hormon primata meningkat dan memicu perilaku agresif yang tidak biasa.

"Saat birahi, sifat agresif primata meningkat. Itu dugaan awal yang paling mungkin," terangnya.

Sejak tiga minggu lalu, BKSDA telah memasang satu jebakan di Desa Pemurus, namun hingga kini belum mendapatkan hasil. Karena itu, BKSDA menambah strategi baru untuk mempercepat penangkapan.

Baca Juga: Perajin Gulinggang Mantapkan Kemandirian Usaha Lewat Studi Tiru ke Kembang Ilung

"Hari Jumat nanti kami tambah dua titik jebakan lagi dengan metode berbeda. Yang pertama menggunakan makanan, nanti kami coba memancingnya dengan kera betina," ujarnya.

Selain jebakan, tim juga akan membawa senapan bius untuk mengantisipasi monyet agresif yang sulit ditangkap. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penanganan dan mengurangi risiko serangan lebih lanjut kepada warga.

Saat ini, BKSDA masih melakukan observasi lapangan, termasuk pendataan titik kejadian serta identifikasi jenis monyet yang melakukan serangan. Tim juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan penanganan berjalan efektif. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
#kera liar Aluh Aluh #BKSDA Kalsel #musim kawin primata #serangan monyet Banjar #teror kera brutal