AMUNTAI – Masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) masih mengeluhkan harga eceran Pertamax yang tetap tinggi di tingkat pengecer, yakni Rp 17 ribu per liter. Padahal, pasokan BBM ke SPBU mulai lancar sejak kelangkaan Pertamax yang terjadi dua pekan lalu.
Pantauan Selasa (2/12) di sejumlah titik pengecer, harga Pertamax masih berada di kisaran Rp 17 ribu per liter, meskipun sebelumnya sempat menembus Rp 20 ribu.
Salah seorang pengecer di Amuntai Tengah, sebut saja Ali, mengaku bahwa ia dan pengecer lain membeli BBM dari pihak kedua dengan harga yang masih relatif tinggi sehingga harga jual eceran pun ikut menyesuaikan.
“Kami jual jasa ecer minyak. Kalau mau harga normal silakan ke SPBU. Kami sempat menjual Rp 19 sampai Rp 20 ribu per liter saat pasokan langka, sekarang sudah turun ke Rp 17 ribu,” ujarnya.
Ovi, salah satu warga Kota Amuntai, mengaku harga BBM standar merupakan hal yang sangat diimpikan masyarakat saat ini, harga eceran masih berat di kantong warga yang ekonominya pas-pasan
“Harapan warga harga di tingkat pengecer bisa turun lagi sebelum kejadian kelangkaan BBM, kembali ke Rp 15 ribu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD HSU, Mukhsin Haita menyampaikan bahwa saat ini seluruh SPBU di HSU diwajibkan melaporkan ketersediaan BBM setiap hari kepada Dinas Koperasi, UKM, Industri, dan Perdagangan (Diskuperindag) HSU.
“Data pasokan BBM di SPBU kemudian dibagikan oleh dinas terkait ke grup-grup WhatsApp, termasuk saya ikut membagikan,” ujarnya.
Tujuannya agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat terkait ketersediaan BBM pada SPBU terdekat.
“Harapannya, informasi ini membantu masyarakat mendapatkan BBM langsung di SPBU. Kami juga menyarankan pembatasan pembelian Pertamax agar distribusi lebih merata,” kata Mukhsin.
Editor : Muhammad Syarafuddin