Plt Kabid Perikanan Tangkap DKPP Banjar, Bandi Chairullah, mengatakan pihaknya telah melakukan observasi lapangan setelah menerima laporan awal dari Penyuluh Perikanan Kecamatan Aranio, Ahmad Fauzi. Hasil pengamatan morfologi menunjukkan kemiripan kuat dengan ikan louhan.
"Informasi penyuluh sesuai dengan sampel yang kami lihat. Secara morfologi memang menyerupai louhan. Namun kepastian spesies tetap harus melalui kajian ilmiah," ujar Bandi, Jumat (28/11).
Baca Juga: Ikan Louhan Predator Bikin Nelayan Riam Kanan Merugi
Karena alasan itu, DKPP Banjar akan melibatkan BRIN serta instansi terkait dan universitas untuk menganalisis DNA dan morfologi ikan tersebut. Menurut Bandi, pelibatan BRIN menjadi langkah strategis, mengingat temuan ini berpotensi memengaruhi ekosistem waduk dan mata pencaharian nelayan.
"Kami ingin memastikan secara ilmiah apakah ini benar louhan, hibrid nonlokal, atau jenis lain. Ini penting agar penanganannya tepat dan sesuai karakter invasifnya," jelasnya.
Sebelumnya, Penyuluh Perikanan Aranio, Ahmad Fauzi, menjadi pihak pertama yang mengidentifikasi ciri fisik ikan tersebut sebagai louhan. Ia menyebut bentuk tubuh, perilaku predator, hingga sifat teritorialnya identik dengan ikan hias yang banyak dipelihara di akuarium.
Baca Juga: DKPP Banjar Telusuri Kemunculan Ikan Mirip Louhan di Waduk Riam Kanan
"Warnanya kusam karena hidup di alam, bukan dipelihara. Tapi secara bentuk dan sifat sangat mirip louhan," katanya.
Menurut Fauzi, keberadaan ikan ini diduga sudah berlangsung bertahun-tahun akibat pelepasan ikan hias oleh warga. Populasinya kini berkembang cepat dan memangsa anakan ikan lokal seperti puyau, toman, nilem, hingga gurame.
Bandi menilai kondisi ini masuk kategori mendesak. Analisis internal memperlihatkan potensi ancaman tinggi terhadap keberlanjutan perikanan tangkap di Riam Kanan.
"Ikan ini tidak punya nilai ekonomi, tapi agresif dan diduga invasif. Ini jelas berdampak pada pendapatan nelayan," ujarnya.
Baca Juga: Ikan Louhan Riam Kanan Perlu Analisis DNA, Supaya Ketahuan Asal Usulnya
Sejumlah langkah kini disiapkan DKPP Banjar, di antaranya identifikasi ilmiah melalui lembaga riset, penyusunan regulasi pelepasan ikan hias di perairan umum, edukasi kepada pemancing dan penghobi ikan hias, serta monitoring berkala.
"Kami mendorong kolaborasi semua pihak agar ekosistem waduk tetap terjaga dan spesies lokal tidak hilang," tegas Bandi. (*)
Editor : M. Ramli Arisno