Salah satunya diungkapkan Maulidah, ia rencananya melangsungkan wisuda pada pertengahan Desember mendatang.
Namun menurut alumni Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) ini, mendapatkan MUA belakangan rumit, padahal pencarian dilakukan hampir satu bulan sebelum hari acara.
“Ada sekitar delapan orang yang aku hubungi, tapi ternyata semuanya sudah full booked,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).
Ia menduga ini akibat dari permintaan yang tinggi. Sebab bulan depan, bukan hanya Uniska yang menggelar wisuda, tapi juga Universitas Sari Mulia (Unism) Banjarmasin.
“Kayaknya banyak yang pesan duluan, soalnya di tanggal itu juga ada wisuda dari kampus lain. Akhirnya enggak ada yang kosong sama sekali,” tutur wanita 22 tahun ini.
Sejauh ini, usaha Maulidah mendapatkan MUA masih nihil, terlebih MUA ternama di Banjarmasin sudah pasti jadwalnya ludes.
“Mungkin masih ada sih MUA yang enggak terlalu aktif promosi di media sosial dan jadwalnya masih kosong, tapi karena aku bukan asli orang Banjarmasin, jadi agak susah nyarinya,” kata dia.
Wanita asal Kapuas, Kalimantan Tengah ini hanya mampu mencari lewat sosial media. Opsi mendatangkan jasa dari luar daerah memang ada, tapi beban biaya berlebih masih jadi kekhawatiran.
Selain Maulidah, pengalaman serupa juga dialami Mutiah. Lulusan Unism Banjarmasin ini bahkan sudah mulai menyusuri jasa makeup itu sejak dua bulan lalu.
“Wisuda Desember, tapi sejak Oktober nanya-nanya empat kali MUA udah pada full. Opsi terakhir terpaksa makeup sendiri,” keluhnya.
Selain sulitnya mencari MUA, persoalan postur wajahnya sendiri jadi persoalan tambahan. “Aku susah nyari karena muka ku high visual, jadi gak cocok sama soft dan korean look,” beber Mutiah.
“Sekarang banyak MUA baru yang gayanya emang korean look, bukan tidak percaya MUA baru, tapi mukaku gak cocok,” tambah alumni Fakultas Kesehatan Unism ini.
Salah satu pelaku usaha MUA, Adinda Fiorentina tak menapik bahwa permintaan jasa merias wajah menjelang musim wisuda memang sedang meroket tinggi.
Ia merasa sudah tak heran lagi, sebab jika acara wisuda pelayanan MUA terbatas. Satu kampusnya saja sudah bisa meluluskan ratusan hingga ribuan mahasiswi dalam waktu yang sangat berdekatan.
“Pasti membeludak. Sedangkan kami MUA perorangnya saja sehari mungkin hanya bisa terima tiga hingga enam, jadi bayangkan saja berapa banyak MUA yang full, pasti rebutan,” ungkapnya.
Menurut Adinda, kebanyakan MUA sudah berprinsip menjaga kualitas layanan, dibanding mengeruk kuantitas di momen banyak kesempatan seperti musim wisuda ini.
“Jadi benar sudah banyak juga yang aku tolakin, tahun lalu aku sehari bisa terima 13 orang, sekarang aku terima enam sampai tujuh orang sehari,” terangnya.
Wanita kelahiran Malang ini mengatakan, tak jarang jasa MUA sendiri harus ditopang oleh mereka yang berada di luar daerah.
Senada, hal serupa juga disampaikan Falla Sofia. Bukan hanya wisudawati, tapi permintaan juga kerap datang dari orang tua pendamping wisuda.
“Tidak jarang aku tolak, MUA punya target harian, terkadang juga tergantung MUA sendiri punya asisten atau tidak biar bisa lebih banyak,” ucapnya.
Kurang lebih tiga tahun menggeluti jasa makeup, Falla mengaku belum pernah melihat platform khusus yang mengakomodir permintaan satu pintu, semua dilakukan lewat media sosial masing-masing.
“Paling tidak kalau penuh, terkadang customer minta rekomendasi MUA lain yang masih kosong dari temen-teman kita yang lain. Kami bantu sampaikan lewat grup whatsapp,” pungkasnya.
Editor : Sutrisno