Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pemprov Kalsel Rencanakan Bangun Stadion Internasional di 2026, Janji atau Mimpi?

Sheilla Farazela • Kamis, 27 November 2025 | 10:55 WIB

 

Photo
Photo

 

BANJARMASIN - Rencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan membangun stadion bertaraf internasional mulai 2026 bagi sebagian masyarakat, khususnya pecinta olahraga sangat ditunggu-tunggu.

Stadion yang digadang wah dan megah, nantinya bakal menjadi kebanggaan warga Kalsel. Bahkan, proyek ini digadang-gadang mampu mendongkrak citra daerah sekaligus menggerakkan roda ekonomi.

Namun di sisi lain, pengalaman pembangunan stadion internasional di daerah lain. Seperti di Balikpapan, Jakarta, hingga Samarinda menunjukkan bahwa janji megah kerap dibayangi risiko klasik. Memakan biaya jumbo, waktu pengerjaan panjang, hingga persoalan lahan dan pembengkakan anggaran.

Dari hasil penelusuran dan perbandingan dengan pembangunan stadion di daerah lain, seperti Stadion Batakan di Balikpapan, Jakarta International Stadium (JIS), hingga Stadion Palaran di Samarinda, satu kesimpulan mengemuka. Proyek stadion selalu menjanjikan dampak ekonomi, tetapi juga berisiko tinggi bila perencanaannya tak matang.

Pembangunan stadion di berbagai daerah di atas bahkan menghabiskan biaya jumbo. Mulai dari ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Waktunya pun tak sebentar, tiga hingga 6 tahun. Persoalan lahan, perubahan desain, hingga pembengkakan anggaran menjadi masalah klasik yang kerap menghantui.

Pengamat sepak bola Kalsel sekaligus dosen JPOK FKIP ULM, Ramadhan Arifin, berpendapat, pembangunan stadion di Kalsel tetap memiliki tingkat urgensi tersendiri. “Cukup urgen kalau sebagai ikon Kalsel. Stadion ini bisa menjadi bagian dari strategi besar daerah, apalagi kita juga sebagai penyangga IKN. Selain itu, dampak ekonominya juga besar. Harapannya, Tim Nasional bisa bermain di Kalsel karena antusiasme masyarakat terhadap sepak bola cukup tinggi,” ujarnya.

Dia menilai, stadion-stadion yang saat ini ada di Kalsel memang belum memenuhi standar internasional. Karena itu, kehadiran stadion baru diperlukan untuk menggelar event berskala besar dan membuka peluang hadirnya laga-laga tim nasional di Banua.

Meski begitu, ia mengingatkan agar proyek raksasa ini tidak hanya berorientasi pada satu klub, yakni Barito Putera, yang performanya selama ini naik-turun. “Proyek ini seharusnya bukan hanya untuk Barito Putera. Stadion harus menjadi kebanggaan masyarakat Kalsel secara luas,” tekannya,

Dia mencontohkan, daerah-daerah lain bahkan di tingkat kabupaten di Pulau Jawa sudah memiliki stadion standar internasional. Sebagai provinsi dengan APBD besar. “Kalsel seharusnya juga memilikinya, apalagi untuk event nasional seperti PON,” imbuhnya.

Menurutnya, akan ada risiko besar jika stadion bernilai triliunan rupiah hanya bergantung pada satu klub. Risiko utamanya adalah beban keuangan yang terus membengkak untuk operasional dan perawatan, mulai dari rumput, listrik, keamanan hingga perbaikan fasilitas.

 

Secara akademik, dia menyebut ada empat indikator utama yang menentukan layak atau tidaknya pembangunan stadion. Permintaan dan tingkat pemanfaatan, dampak ekonomi, serta kesesuaian dengan regulasi PSSI dan AFC menyangkut keamanan, kenyamanan, dan kelengkapan fasilitas.

Ia juga menyoroti persoalan teknis khas Kalsel. Rencana lokasi di kawasan Km 17 dengan karakter tanah gambut, misalnya, akan berdampak langsung terhadap biaya urukan dan pondasi. Ditambah lagi potensi perubahan desain di tengah jalan, permintaan fasilitas prestise, serta persoalan tata kelola dalam proses tender yang kerap memicu pembengkakan biaya.

Meski demikian, manfaat realistis tetap ada dan bisa dirasakan masyarakat. Mulai dari fasilitas menonton bola yang lebih aman dan nyaman, ruang untuk event besar seperti konser dan kegiatan keagamaan, hingga peluang ekonomi bagi UMKM, transportasi, dan sektor pariwisata. “Stadion juga berpotensi menjadi pusat pengembangan pemain muda jika dilengkapi dengan lapangan latihan dan akademi pembinaan,” sebutnya.

Soal luasan stadion, Ramadhan menyarankan pendekatan yang lebih rasional. “Lebih tepat stadion menengah yang fungsional dan bisa dikembangkan. Kapasitas 20–30 ribu sudah realistis, tapi desainnya harus bisa diekspansi. Jangan terlalu besar kalau demand-nya belum terbukti, nanti banyak kursi kosong dan biaya operasional jadi boros,” tambahnya.

Ia menambahkan, stadion ideal untuk Kalsel harus multifungsi, adaptif terhadap iklim tropis dan kondisi tanah, terintegrasi dengan Banjarmasin, Banjarbaru, dan bandara, serta memiliki identitas lokal yang kuat melalui desain yang mengangkat budaya Banjar.

Agar tidak berakhir menjadi bangunan megah yang sepi, ia menekankan pentingnya business plan yang jelas, kalender event tahunan, model pengelolaan profesional (BLUD/BUMD atau KPBU), integrasi kawasan komersial, serta akses transportasi yang baik dan terjangkau. Evaluasi pascapembangunan juga harus dilakukan secara transparan melalui data utilisasi dan pendapatan.

“Ini bisa menjadi tonggak baru kemajuan olahraga dan kebanggaan daerah. Tetapi tanpa perencanaan yang matang, transparansi, dan manajemen profesional, proyek ini justru berpotensi menjadi beban jangka panjang bagi keuangan daerah,” pesannya.

Rencana pembangunan stadion bertaraf internasional di Kalimantan Selatan juga menuai respons dari masyarakat. Junaidi (32), salah seorang warga Jalan Meratus, Banjarmasin, mengaku sudah mengetahui adanya rencana pembangunan stadion tersebut. Ia bahkan menyatakan dukungan penuh jika proyek itu benar-benar direalisasikan. “Ya, saya sudah tahu soal rencana itu. Saya sangat setuju kalau stadion bertaraf internasional dibangun di Kalsel,” ujarnya.

Meski setuju, Junaidi menilai pembangunan fasilitas pendidikan masih menjadi kebutuhan yang lebih mendesak dibandingkan stadion baru. “Kalau menurut saya, sebenarnya yang paling penting saat ini adalah sekolah. Tapi kalau stadion tetap dibangun, saya pasti akan datang menonton pertandingannya,” katanya.

Meski optimis, dia berharap agar proyek ini benar-benar diawasi dengan ketat. “Saya harap pemerintah memantau terus pembangunan stadion ini. Jangan sampai mangkrak,” ujarnya.

Sisi lain, rencana pembangunan stadion dengan levek internasional ini, rupanya belum menyentuh level koordinasi dengan Pemerintah Kota Banjarbaru. Meski lokasi yang diwacanakan berada di kawasan Banjarbaru menuju Bandara Syamsuddin Noor dan sekitar Terminal KM 17 Gambut Barakat, namun hingga kini belum ada arahan resmi dari pemprov.

 

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Banjarbaru, Rahmat Taufik, menegaskan bahwa pihaknya belum menerima permintaan mengenai dukungan daerah, baik terkait lahan maupun kajian penganggaran.

“Sampai saat ini belum ada permintaan dari pemerintah provinsi terkait apa yang harus kami lakukan atau dukung untuk pembangunan stadion. Penelitian penganggaran juga belum ada,” ujarnya, Rabu (26/11).

Taufik menyebutkan, tidak ada komunikasi ataupun rapat koordinasi yang mengarah pada pembahasan detail rencana proyek tersebut. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa proses pembahasan tengah berjalan di lingkup internal Pemprov Kalsel. “Pertemuan saja belum ada. Informasinya masih di tingkat provinsi. Belum ada komunikasi ataupun rapat terkait itu dengan kita, di Kota Banjarbaru,” tambahnya.

Seperti diketahui, Pemprov Kalsel memastikan pekerjaan pembangunan stadion bertaraf internasional. Kepastian tersebut setelah disetujuinya masuk dalam pembangunan Kalsel di tahun jamak, di mulai tahun 2026 mendatang.

Stadion ini ditargetkan akan selesai dan dapat digunakan pada tahun 2029 mendatang. Sesuai janji kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel. Masuknya proyek pembangunan stadion ini disampaikan saat Rapat Paripurna DPRD Kalsel, Selasa (25/11).

Meski masuk dalam program pembangunan tahun jamak, namun letak stadion tersebut masih dirahasiakan Gubernur Kalsel, Muhidin. Dia hanya mengatakan ada dua lokasi yang sudah disiapkan. Yakni di Banjarbaru arah ke Bandara Syamsuddin Noor dan di sekitar Terminal KM 17 Gambut Barakat. Begitu juga dengan anggaran yang disiapkan mulai tahun depan. Muhidin tak mengungkap. “Belum tahu kepastiannya. Yang pasti dianggarkan,” katanya.

Editor : Muhammad Rizky
#Pembangunan Stadion #internasional #Pemprov Kalsel