BANJARMASIN – Tren tutupan lahan di Kalsel diklaim menunjukkan perbaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Kehutanan Kalsel menegaskan komitmen menjaga keberlanjutan hutan melalui strategi pengurangan emisi dan pemulihan lahan kritis.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fatimatuzzahra, menyebut bahwa tren tutupan hutan sempat mengalami penurunan drastis. Pada tahun 2013 sekitar 640 ribu hektare, dan pada tahun 2018 menjadi 511 ribu hektare. Sementara pada tahun 2022 hanya seluas 458 ribu hektare.
Namun, upaya penanaman, pengendalian perambahan, dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berhasil membalikkan tren tersebut. Dari data Kementerian Kehutanan, tutupan hutan meningkat menjadi 904.436 hektare pada 2020 dan 945.352 hektare pada 2024.
Angka ini bahkan belum mencakup tanaman muda berusia 1–4 tahun, sehingga kondisi lapangan dinilai lebih baik. “Trennya meningkat dan lebih baik. Bahkan, di lapangan tutupan lahan sebenarnya lebih baik lagi,” jelasnya saat Rapat Koordinasi Tata Kelola Hutan di Gedung Idham Chalid Setdaprov Kalsel, Senin (24/11).
Mencegah deforestasi, melindungi hutan, meningkatkan cadangan karbon, dan mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dia menyebut, akan ada rencana besar penanaman pada 27 November mendatang.
“Dari total 250 hektare lahan milik Pemprov, kami akan melaksanakan penanaman pada 100 hektare. Area ini dibagi menjadi empat zona: dua zona tanaman buah produktif (MPTS), 30 hektare tanaman ulin, dan 20 hektare eucalyptus. Kita akan memiliki hamparan ulin dalam satu kawasan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa penanaman dilakukan oleh petani hutan setempat dan pengelolaannya akan dilakukan oleh Pemprov Kalsel. “Jalan inspeksi juga disiapkan sebagai jalur pemeliharaan dan sekat pagar untuk perlindungan kawasan,” tambahnya.
Perempuan yang akrab disapa Aya itu menegaskan, bahwa pengurangan emisi tidak hanya dilakukan lewat penanaman pohon. “Kami tidak hanya melakukan penanaman, tetapi juga mengurangi perambahan kawasan hutan serta meminimalkan potensi karhutla. Dua hal ini sangat penting dalam menjaga keberlanjutan tutupan lahan,” cetusnya.
Pendekatan komprehensif tersebut meliputi, penanaman pohon produktif dan endemik, pengendalian perambahan kawasan hutan, pencegahan karhutla melalui sekat bakar dan inspeksi lapangan. “Termasuk penguatan administrasi dan data safeguard untuk mendukung skema REDD+,” ujarnya.
Sementara, Wakil Ketua DPRD Kalsel, M Alpiya Rakhman menegaskan pentingnya menjaga dan meningkatkan kualitas hutan di Kalsel sebagai langkah nyata mengurangi emisi gas rumah kaca. Ia mengapresiasi data yang menunjukkan kondisi hutan Kalsel semakin membaik. “Kondisi hutan sudah semakin bagus, tapi Pemprov Kalsel harus semakin gencar melakukan penghijauan dan pelestarian lingkungan,” pesannya.
Editor : Arief