Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bangun Stadion Bertaraf Internasional, Akademisi ULM Ingatkan Pemprov Kalsel Risiko Lahan Gambut

Sheilla Farazela • Rabu, 26 November 2025 | 13:59 WIB

NARASUMBER: Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr Eng Akbar Rahman.
NARASUMBER: Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr Eng Akbar Rahman.
BANJARBARU – Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr Eng Akbar Rahman menyoroti rencana Pemprov Kalsel membangun stadion bertaraf internasional. 

Ia menyebut, perencanaan pembangunan stadion sesuai standar FIFA perlu memperhatikan kondisi geologi, hidrologi, serta kesiapan lingkungan secara menyeluruh. 

Apalagi, dua lokasi yang disiapkan pemprov berada di sekitar lahan gambut. Yakni di Banjarbaru arah ke Bandara Syamsudin Noor dan di sekitar Terminal KM 17 Gambut Barakat.

"Kalau di lahan gambut bukan lokasi ideal untuk proyek infrastruktur berat seperti stadion," katanya, Rabu (26/11/2025). 

Menurut Ketua Jurusan Arsitektur ini, lahan gambut memiliki daya dukung tanah sangat rendah, risiko penurunan jangka panjang, serta kebutuhan sistem pengendalian air yang jauh lebih kompleks. 

“Stadion adalah struktur berat dengan tribun, atap bentang lebar, dan beban penonton. Pondasinya wajib mencapai tanah keras. Di lahan gambut, biaya konstruksi akan jauh lebih tinggi dan risikonya meningkat,” ujarnya.

Akbar menjelaskan, kawasan gambut memiliki muka air tanah yang tinggi, sehingga pembangunan membutuhkan sistem polder, kolam retensi, saluran keliling stadion, hingga rumah pompa yang harus beroperasi setiap saat. 

Penurunan tanah yang terus berlangsung akibat perubahan kadar air juga dapat menyebabkan kemiringan struktur hingga retakan bangunan.

Ia menilai, kondisi tersebut berdampak pada biaya pemeliharaan yang lebih besar dan keharusan menjalankan rekayasa teknis intensif. Sebaliknya, area dengan tanah keras memberikan stabilitas lebih baik, sistem drainase lebih mudah dikendalikan, serta efisiensi konstruksi dan pengelolaan jangka panjang.

“Untuk stadion berstandar FIFA, kajian geoteknik, hidrologi, dan kajian dampak lingkungan adalah syarat mutlak. Keputusan teknis harus disertai mitigasi, seperti peningkatan pondasi dan pengendalian muka air tanah,” jelasnya.

Akbar menegaskan, pembangunan stadion di lahan gambut memang memungkinkan, tetapi memerlukan investasi lebih besar dan pengelolaan risiko jangka panjang yang tidak sederhana. 

“Tanah keras tetap menjadi pilihan lebih aman, stabil, hemat, dan berkelanjutan, apalagi jika stadion direncanakan menjadi pusat kegiatan olahraga sekaligus penggerak ekonomi daerah,” tegasnya.

Editor : Sutrisno
#banjarbaru #Stadion #Kalsel