KANDANGAN – Menjelang masuknya musim penghujan, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana hidrometeorologi.
Sekda HSS Muhammad Noor menekankan, kesiapsiagaan bukan semata menyiapkan peralatan dan sarana pendukung. Lebih dari itu, koordinasi lintas sektor, kecepatan merespons keadaan darurat, serta keakuratan informasi menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana yang mungkin terjadi.
“Kita perlu bergerak lebih kompak. Dengan respons cepat dan informasi yang tepat, risiko yang muncul dapat ditekan sejak dini,” kata Muhammad Noor, Rabu (26/11/2025).
Kepala Pelaksana BPBD HSS, Kusairi, menyampaikan bahwa saat ini wilayah HSS sudah memasuki musim transisi dari kemarau menuju musim hujan. Pemetaan potensi bencana pun telah mereka tuntaskan.
Untuk tanah longsor, wilayah pegunungan seperti Padang Batung, Loksado, Telaga Langsat, serta bantaran sungai menjadi lokasi yang perlu diwaspadai. Banjir bandang pun berpotensi muncul dari kawasan yang sama, terutama jika curah hujan tinggi terjadi di hulu.
Di Kota Kandangan, ancaman banjir kiriman tetap menjadi perhatian utama. “Kalau Sungai Amandit meluap dengan tinggi, air kirimannya bisa merendam kawasan kota," jelas Kusairi.
Namun, pihaknya bersyukur karena proyek pengurukan dan normalisasi sungai dari Simpur hingga Kalumpang saat ini sudah berjalan. Upaya itu diharapkan mampu memperlancar aliran air dari pegunungan.
“Dengan arus air yang lancar, mudahan kota tidak lagi mudah terendam,” harapnya.
Kusairi juga menjelaskan bahwa wilayah tiga Daha, yakni Daha Selatan, Daha Utara dan Daha Barat masih menjadi langganan banjir rob setiap tahun. Air kiriman dari arah Tanjung dan Amuntai membuat kawasan rawa itu terendam cukup lama.
“Hampir setiap tahun terendam. Durasi genangannya bisa sampai satu sampai dua bulan,” ungkapnya.
Daerah Kalumpang pun memiliki potensi serupa, dengan kemungkinan genangan hingga satu bulan. Karena itu, normalisasi sungai dan saluran terus menjadi prioritas dalam mitigasi bencana jangka panjang.
Selain banjir dan longsor, BPBD juga memetakan daerah rawan angin puting beliung yang biasanya terjadi di dataran terbuka, seperti Angkinang, Sungai Raya, Simpur, dan wilayah Daha.
“Kami mengimbau warga yang tinggal dekat pohon besar untuk segera berkoordinasi jika perlu dilakukan pemotongan. Ini langkah pencegahan yang efektif,” ujar Kusairi.
Semua unsur kecamatan, desa, relawan, dan masyarakat telah dikerahkan untuk bersiaga. Personel dan peralatan BPBD setempat sekarang berada dalam kondisi siap turun kapan saja jika terjadi bencana.
Posko utama kabupaten juga akan kembali diaktifkan setelah status siaga ditetapkan. Masa siaga diprediksi berlangsung lama, yakni mulai Desember 2025 hingga Maret 2026.
“Semua komponen terlibat. Kami siap membantu masyarakat kapan pun diperlukan,” tegasnya.
Editor : Arif Subekti