MARTAPURA - Jumlah korban serangan monyet liar di Kabupaten Banjar kembali bertambah. Dinas Kesehatan mencatat lima warga di dua kecamatan mengalami luka akibat gigitan dan cakaran primata ekor panjang tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Marzuki mengatakan para korban berasal dari dua kecamatan, yakni Beruntung Baru dan Aluh Aluh.
“Ada lima laporan kasus gigitan dari dua kecamatan terdampak, Beruntung Baru dan Aluh Aluh,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Marzuki saat dikonfirmasi, Selasa (25/11) siang.
Ia memastikan seluruh korban telah mendapat penanganan medis yang sesuai standar. “Semuanya sudah aman dan ditangani oleh puskesmas setempat. Luka dibersihkan dan warga diberikan vaksin anti-rabies,” ujarnya.
Marzuki mengingatkan warga agar segera melakukan pertolongan pertama jika mengalami serangan.
“Segera cuci luka dengan sabun, lalu langsung ke puskesmas untuk mendapatkan vaksin anti-rabies," imbaunya.
Sementara itu, laporan mengenai keberadaan monyet liar yang memasuki permukiman juga diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Banjar.
Kepala DPKP Banjar, Agus Siswanto menyebut tim dari Sektor Gambut sudah turun ke lokasi, terutama di Desa Jambu Burung.
Namun, Agus menegaskan penanganan langsung terhadap satwa liar bukan kewenangan penuh DPKP.
“Untuk evakuasi monyet itu ranahnya BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Secara peralatan juga tidak ada, misalnya senapan bius atau net gun,” jelasnya.
Pihaknya pun meminta aparat desa dan kecamatan segera berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Selatan agar penanganan dapat dilakukan lebih efektif.
Kasus ini menambah deretan insiden serangan satwa liar setelah sebelumnya empat anak di Desa Pemurus, Aluh Aluh, diserang seekor kera betina pada 18 November 2025.
Para korban, yaitu Norzaina (6), Ahmad Salman (6), Nur Azkia Shafira (2), dan bayi berusia satu bulan, Muhammad Juhdi Yanor, mengalami luka gigitan di kaki dan telapak tangan.
Salah satu di antaranya bahkan membutuhkan delapan jahitan.
Kapolsek Aluh Aluh, Ipda Deden Lesmana menjelaskan bahwa serangan terjadi saat para anak berada di rumah tanpa pengawasan orang tua.
Polsek bersama BKSDA kemudian menangkap seekor kera yang diduga pelaku dan menyerahkannya untuk dipindahkan ke habitat aman.
Menurut Deden, meningkatnya kemunculan kera liar di permukiman menandakan adanya tekanan habitat di wilayah pesisir.
“Wilayah ini berbatasan dengan rawa dan hutan kecil yang mulai terfragmentasi. Ini membuat satwa mencari makanan ke rumah warga,” jelasnya.
Karena itu, Polsek mengimbau warga agar tidak meninggalkan sampah terbuka atau sumber makanan lain yang dapat menarik satwa liar.
Editor : Muhammad Syarafuddin