BANJARMASIN - Hasil peninjauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kajian potensi bencana Kelurahan Sungai Lulut di Kecamatan Banjarmasin Timur rentan risiko banjir rob, genangan dan potensi angin kencang.
Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Kesiapansiagaan BNPB, Chairil Hadi membenarkan analisis sebelumnya dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin terhadap sebab banjir rob yang kerap terjadi.
“Di Sungai Lulut, banjir rob kerap dipicu oleh aktivitas pasang surut yang datang dari aliran Sungai Martapura, didorong pasang air laut,” ujar Chairil Hadi. Senin (24/11).
Faktor utama yang menentukan status banjir rob sendiri merupakan kondisi naiknya air laut di sekitar Kota Banjarmasin yang masuk melalui Sungai Martapura.
“Selain limpahan aliran sungai ada juga faktor kenaikan permukaan air laut. Kalau dikatakan dari Sungai Martapura saja itu banjir bisa, bukan banjir rob,” jelasnya.
Hal ini didapat disimpulkan setelah BNPB melalukan Fasilitasi Kelurahan Tangguh Bencana lebih dari satu bulan di Kota Seribu Sungai.
Dalam agenda fasilitasi, BNPB mendorong masyarakat ikut serta dalam penanggulangan bencana di daerah dengan terbentuknya forum diskusi dan tim relawan.
Hasilnya, masyarakat dapat melakukan penyusunan dokumen kajian risiko, dokumen rencana kontijensi dan mengenali sistem peringatan dini.
“BNPB memfasilitasi masyarakat untuk berdiskusi, bersepakat tentang kajian risiko, peta ancaman, peringatan di tempat mereka, sehingga masyarakat sendiri yang menentukan dokumen-dokumen yang dihasilkan,” tutur Chairil.
Meski Sungai Lulut rawan bencana banjir, BNPB mengapresiasi kelurahan sebab dinilai cukup baik dari sisi penilaian ketangguhan yang berada di level tangguh madya.
“Artinya ada beberapa aspek antisipasi bencana di Sungai Lulut yang dipenuhi. Sungai Lulut juga sempat menjadi percontohan untuk menyusun dokumen program destana seperti KTB dan Rencana Kontijensi,” bebernya.
Sekeretaris Lurah Sungai Lulut, Rusinah menyampaikan terima kasih atas dorongan BNPB yang membuat masyarakat berperan aktif dalam Desa Tangguh Bencana (Destana).
“Semoga masyarakat dapat memahami dan dapat menyebarkan informasi positif kepada masyarakat lainnya maupun keluarga terhadap antisipasi bencana,” tutupnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin