Data tersebut menjadi sorotan utama Pemerintah Kabupaten Banjar dalam rapat evaluasi percepatan penanggulangan TBC yang digelar Selasa (18/11).
Penjabat (Pj) Sekda Banjar, Ikhwansyah, mengatakan bahwa jika dibandingkan tahun lalu, tahun ini memang terlihat ada penurunan kasus.
Baca Juga: Beasiswa PNM untuk Anak Nasabah: Langkah Nyata Mendukung Asta Cita Presiden di Sektor Pendidikan
"Tapi secara angka, jumlah temuan tahun ini masih tinggi, sehingga menjadi beban serius bagi daerah," ungkapnya saat dikonfirmasi, Rabu (19/11) sore.
Karena itu, Ikhwansyah menegaskan rapat evaluasi tidak boleh berhenti di koordinasi semata. Ia ingin hasil pertemuan melahirkan langkah konkret yang langsung menyentuh lapangan.
"Kasus TB paru masih menjadi masalah nasional. Kita butuh aksi nyata dan terukur agar angka TBC turun bertahap di Banjar," ujarnya.
Baca Juga: Inklusi Keuangan di Pedesaan: Kisah AgenBRILink Koperasi Desa Merah Putih Hidupkan Ekonomi Lokal
Plt Kepala Dinas Kesehatan Banjar, dr Noripansyah, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah membentuk tim percepatan penanggulangan TBC lintas sektor. Tim ini melibatkan RSUD Ratu Zalecha, Bekantan TB, bagian hukum, Bappeda, hingga BPKPAD.
Ia menyebut salah satu tantangan terbesar adalah luasnya wilayah Banjar, mulai dari Aluh-aluh hingga Paramasan, sehingga strategi penjangkauan harus diperkuat. Untuk itu, Pemkab menyiapkan pengadaan unit Mobile TB pada 2026 serta penambahan alat laboratorium TCM/NAATs di puskesmas.
Menurut Noripansyah, layanan jemput bola melalui Mobile TB sangat efektif menjangkau desa, sekolah, dan komunitas yang sulit mengakses fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Kera Liar Serang 4 Anak di Aluh-aluh, Salah Satu Korban Butuh 8 Jahitan
"Kita harus mempercepat penemuan kasus," tegasnya.
Terpisah, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Banjar, Marzuki, menambahkan bahwa estimasi jumlah terduga TBC mengacu pada data Riskesdas Kementerian Kesehatan yang diperbarui Oktober 2025.
Menurutnya, sebagian indikator penularan menunjukkan tren menurun, namun masyarakat harus tetap waspada.
Baca Juga: Kerja Sama dengan PDU Skala RT, Bank Kalsel Luncurkan Program Bahemart
"Jika batuk dua minggu atau lebih, berkeringat malam, atau berat badan turun, segera periksa ke puskesmas. Edukasi tidak boleh kendor," katanya.
Ia juga memastikan seluruh Obat Anti-TB (OAT) masih ditanggung pemerintah pusat, sehingga tidak ada hambatan biaya bagi pasien dalam menjalani pengobatan minimal enam bulan.
Dengan angka kasus yang masih tinggi, pihaknya menargetkan penurunan agresif selama lima tahun ke depan.
Baca Juga: Banjarbaru Urutan Kedua Kasus HIV Kalsel, 99 Pasien Meninggal Dunia
"Upaya ini menjadi kunci agar daerah bisa mengejar target nasional eliminasi TBC tahun 2030," pungkas Marzuki.
Editor : M. Ramli Arisno