Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bagaimana Tanah Bumbu Bisa Melepas Ketergantungan pada Industri Ekstraktif?

Zulqarnain RB • Rabu, 19 November 2025 | 13:12 WIB
BATU BARA: Aktivitas pertambangan batu bara yang beroperasi di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
BATU BARA: Aktivitas pertambangan batu bara yang beroperasi di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

BATULICIN — Ekonomi Kabupaten Tanah Bumbu masih sangat bergantung pada komoditas batu bara dan kelapa sawit.

Dominasi sektor ekstraktif ini membuat perekonomian daerah rentan terhadap fluktuasi harga global dan perubahan permintaan internasional.

Sebagaimana diketahui, data BPS yang dirilis pada 2025 menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 49,88 persen dari PDRB Tanah Bumbu tahun 2024.

Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya berkontribusi 11,9 persen.

Beberapa tahun terakhir, pola ini tak banyak berubah.

Pertambangan tetap menjadi motor utama ekonomi, sementara sektor lain bergerak lambat.

Sepanjang 2024, produksi kelapa sawit mencapai 624.865,52 ton tandan buah segar.

Meski demikian, kontribusinya terhadap perekonomian daerah masih belum mampu menyaingi dominasi batu bara.

Maharani Rindu Widara, dosen Program Studi Teknik Pertambangan di Politeknik Batulicin, mengatakan prospek kedua sektor tersebut dalam satu hingga dua tahun ke depan masih cukup cerah.

Menurut dia, sektor batu bara saat ini ibarat sedang “turun gigi” dari kecepatan tinggi.

Harga memang tidak setinggi dua tahun lalu, ketika lonjakan harga global akibat pandemi dan konflik geopolitik mendorong harga batu bara ke puncak.

Baca Juga: Regulasi Kebakaran Difinalkan, Kajian Risiko Bencana Diperdalam

“Namun, harga saat ini masih wajar dan menguntungkan bagi perusahaan, ditambah permintaan dari negara-negara tetangga tetap kuat,” ujarnya, Rabu (19/11).

Sektor kelapa sawit juga menunjukkan prospek positif.

Permintaan domestik yang terjamin, terutama melalui Mandatori Biodiesel B35, berfungsi sebagai demand floor yang melindungi produsen Tanah Bumbu dari fluktuasi harga minyak nabati global.

Posisi strategis daerah dan infrastruktur pelabuhan yang memadai turut mendukung efisiensi ekspor.

Meski begitu, Maharani menekankan bahwa Tanah Bumbu perlu melakukan diversifikasi ekonomi secara proaktif dalam jangka panjang.

Sebab, batu bara adalah sumber daya tidak terbarukan, dan cadangannya di beberapa area Kalsel mulai menipis.

Mengandalkan batu bara dan sawit secara tunggal di tengah transisi energi global berisiko bagi stabilitas ekonomi daerah.

Sebagai langkah antisipatif, ia menyarankan tiga strategi.

Pertama, memanfaatkan penerimaan komoditas ekstraktif saat ini untuk membangun infrastruktur dan ekosistem diversifikasi.

Kedua, menggeser identitas Tanah Bumbu menjadi poros maritim dengan pusat logistik dan perdagangan terpadu.

Ketiga, melakukan hilirisasi tingkat lanjut CPO menjadi produk bernilai tinggi, seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan baku farmasi berbasis sawit.

“Jadi, (CPO, red) bukan hanya dijual mentah,” tegasnya.

Editor : Arif Subekti
#harga #rentan #Batu Bara #global #Tanah Bumbu #Kalsel #Sawit #batulicin #guncangan