Dari kejauhan, terlihat tiga warga binaan duduk melingkar bersama petugas, mengamati puluhan anak ayam yang bergerak lincah di dalam kandang.
Sesekali mereka menyodorkan pakan sambil berbincang pelan, seakan sedang belajar sesuatu yang benar-benar baru.
Di hadapan mereka, ada 100 bibit ayam pejantan yang nantinya akan ditebar di sekitar SAE.
Bagi warga binaan, pengalaman ini tidak sekadar rutinitas harian. Ada rasa percaya diri yang tumbuh ketika diberi tanggung jawab merawat makhluk hidup.
“Saya dapat pengalaman baru, karena baru kali ini belajar langsung bagaimana merawat ayam dari awal sampai panen,” cerita M Rizky, salah satu warga binaan yang terlibat.
Saat itu, Rizky dan sejumlah warga binaan lainnya terlihat fokus dengan tugasnya masing-masing. Ada yang menyiapkan kandang, lampu penghangat, tempat pakan, hingga kebersihan alas kandang dicek satu per satu.
Diakui Rizky, aktivitas seperti ini memberinya harapan baru sesuatu yang mungkin tak pernah ia bayangkan ketika pertama kali masuk Lapas.
“Karena keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kami, terutama nanti saat kembali ke masyarakat,” ujar Rizky.
Yang dilakukan Rizky dan sejumlah rekannya tersebut rupanya merupakan persiapan dimulainya program pembinaan kemandirian berbasis peternakan di Lapas Banjarbaru.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Ady Tri Marwoko mengarahkan, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan warga binaan, tetapi sekaligus mendukung program 13 Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Khususnya perihal ketahanan pangan,” ujar Ady usai memimpin persiapan dan pengecekan kandang sebelum penebaran dilakukan.
Warga binaan, jelas Ady, dilibatkan penuh dalam setiap prosesnya, mulai dari awal penebaran bibit, perawatan, hingga panen nanti.
Dengan pelatihan ini, ia berharap warga binaan bisa menemukan bahwa keterampilan baru, yangdapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
“Mereka belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, bahkan dari seekor ayam pejantan kecil,” imbuh Ady
Terpisah, Kepala Lapas Banjarbaru, I Made Supartana, memberi apresiasi atas pelaksanaan program ini.
Menurutnya, pemeliharaan ayam pejantan menjadi salah satu jalan mengembangkan pembinaan yang produktif dan bernilai ekonomi.
“Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi warga binaan dan masyarakat,” ujarnya.
Rencananya, ayam pejantan ini akan dipelihara hingga masa panen sebelum dipasarkan ke Rumah Makan Semua Senang (Pak Siyo) di Banjarbaru.
Pola kerja sama tersebut membuka ruang pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil program pembinaan.
“Ini salah satu bentuk komitmen kami (Lapas Banjarbaru) untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak positif,” tutup Made Supartana.
Editor : Sutrisno