MARTAPURA - Setelah nelayan Waduk Riam Kanan di Kecamatan Aranio mengeluhkan menurunnya hasil tangkapan akibat munculnya ikan mirip louhan, kini Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar mulai melakukan penelusuran.
Plt Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKPP Banjar, Bandi Chairullah, menegaskan pihaknya belum dapat memastikan bahwa ikan yang ditemukan warga adalah ikan louhan yang punya nama latin Amphilophus hybrid.
Namun, dari ciri fisik yang dilaporkan, ikan tersebut menyerupai louhan dan untuk sementara dikategorikan sebagai hibrida non-lokal.
“Setelah kami baca pemberitaannya, kami belum bisa menyimpulkan bahwa itu louhan. Bentuknya memang mirip, tetapi sementara kami sebut hibrida non-lokal,” jelas Bandi, saat dikonfirmasi, Selasa (11/11) petang.
Menurutnya, secara teori, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Salah satunya, ikan yang muncul di waduk merupakan hasil perkawinan silang antara ikan nila budidaya dengan ikan non-lokal.
“Bisa jadi itu ikan hasil kawin silang nila yang lepas dari keramba. Secara bentuk menyerupai louhan, tetapi secara genetik berbeda,” jelasnya.
Bandi juga memaparkan bahwa ikan louhan asli tergolong ikan hias dan bernilai tinggi, sehingga sangat jarang dilepas ke alam.
Jika pun terjadi perkawinan silang dengan nila, keturunannya mandul dan tidak mampu berkembang biak.
“Kalau louhan kawin dengan nila, keturunannya mandul. Artinya, tidak ada perkembangbiakan lagi,” tegasnya.
Keluhan mengenai kehadiran ikan mirip louhan ini sebelumnya disuarakan para nelayan Liang Toman dalam sebuah forum diskusi di Desa Tiwingan Lama.
Mereka menduga ikan tersebut menjadi penyebab menurunnya hasil tangkapan beberapa bulan terakhir.
Meski begitu, pihaknya tidak ingin berasumsi sebelum ada data lapangan.
Bandi menilai laporan warga tetap harus ditindaklanjuti karena kemunculan ikan dengan sifat agresif bisa mengganggu ekosistem perairan serta menurunkan populasi ikan lokal seperti nila, sepat, dan betok.
“Kami akan kirim tim teknis untuk mengecek langsung dan mengumpulkan sampel. Kalau ada warga yang dapat, segera bawa ke kantor untuk diidentifikasi,” ujar Bandi.
DKPP Banjar juga mengingatkan masyarakat agar tidak melepas atau mencoba membesarkan ikan louhan di area waduk.
Sebab, pelepasan ikan non-lokal tanpa pengawasan, dapat memicu kerusakan ekosistem dan persaingan makanan dengan ikan lokal.
“Tidak ada laporan pembudidaya lohan di perairan Riam Kanan. Tapi tetap kami edukasi supaya masyarakat tidak membesarkan atau melepas ikan jenis ini,” tambahnya.
Sebagai langkah awal mitigasi, DKPP Banjar menyiapkan lima upaya pengendalian, yakni:
- Pemantauan populasi ikan secara berkala.
- Pengumpulan sampel tangkapan nelayan untuk identifikasi spesies.
- Edukasi ke kelompok nelayan dan pembudidaya.
- Koordinasi dengan akademisi dan balai riset jika ditemukan indikasi spesies baru.
- Pemanfaatan hasil tangkapan untuk penelitian dan pengawasan.
“DKPP Banjar menyambut baik laporan masyarakat dan dukungan media. Kami tindak lanjuti agar ekosistem Waduk Riam Kanan tetap terjaga,” tutup Bandi.
Editor: Toto Fachrudin
Editor : Arief