MARTAPURA - Usai kasus keracunan massal yang terjadi pada Oktober 2025 lalu, Pemerintah Kabupaten Banjar memperketat pengawasan terhadap bahan baku makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tidak hanya memastikan kecukupan bahan pangan, pemerintah juga memastikan keamanannya hingga ke meja siswa.
Kamis (6/11) lalu sejumlah lokasi mitra binaan program MBG di Kecamatan Martapura jadi sasaran sidak Petugas Pengambil Contoh (PPC) Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) Banjar.
Dalam sidak itu, tim yang berasal dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Banjar mengambil sampel dari bahan makanan segar yang dipakai dalam menu MBG.
Misal di dapur MBG Tanjung Rema, milik Yayasan Tahfidz Miftah Firdausy. Sampel yang diuji: wortel, jagung manis, jeruk, dan bawang bombay.
Dapur MBG Sungai Paring, milik Yayasan Setia Mandal. Sampel yang diuji: daun bawang, bawang putih, dan bawang bombay.
Dapur MBG Sungai Sipai, milik yayasan Forum Relawan. Sampel yang diuji: wortel, jagung manis, baby corn, bawang merah, bawang putih, anggur merah, dan jeruk.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Keamanan Pangan DKPP Banjar, Sudarto mengatakan pengambilan sampel fokus pada sayuran dan buah yang kemudian diuji menggunakan rapid test kit pestisida di lokasi.
Hasilnya seluruh sampel dinyatakan negatif residu pestisida, sehingga dipastikan aman untuk dikonsumsi.
“Semua bahan pangan yang kami periksa aman untuk dikonsumsi. Tidak ditemukan residu pestisida pada sampel,” tegas Sudarto, Minggu (9/11) siang.
Sudarto menjelaskan, residu pestisida pada pangan dapat berdampak buruk jika terkonsumsi, terutama dalam jangka panjang.
Efeknya mulai dari gangguan pencernaan, iritasi, menurunkan daya tahan tubuh, hingga risiko gangguan pertumbuhan pada anak. Paparan pestisida yang masuk ke tubuh secara berlebih bisa memicu penyakit degeneratif dan mengganggu perkembangan anak.
“Karena itu MBG harus benar-benar bersih dari residu bahan kimia,” jelasnya.
Karena itulah, menurutnya pengawasan seperti ini harus dilakukan secara rutin dan menjadi bagian dari pengawasan PSAT untuk memastikan keamanan bahan pangan sejak dari hulu.
Ia menegaskan, MBG bukan hanya soal menyediakan makanan gratis, tetapi juga menjamin kualitas dan keamanan pangan untuk penerima manfaat, terutama anak-anak.
“Kami ingin memastikan setiap bahan makanan yang disajikan kepada masyarakat bebas dari bahan berbahaya. Ini bentuk komitmen kami untuk menjaga mutu menu MBG,” tegasnya.
DKPP Banjar berharap pengawasan ini juga menjadi pendidikan bagi petani dan pelaku usaha agar semakin sadar pentingnya standar keamanan pangan.
Program MBG Banjar menyasar masyarakat rentan, termasuk anak-anak, dan pihaknya menilai kelompok tersebut paling berisiko terhadap paparan bahan berbahaya dari pangan yang tidak aman.
Selain menguji sampel, DKPP memberikan edukasi kepada pengelola dapur mengenai cara memilih, mengolah, dan menyimpan bahan pangan agar kualitasnya tetap terjaga.
Sudarto menegaskan bahwa pemeriksaan ini merupakan program rutin dalam pengawasan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).
“MBG bukan hanya soal makanan gratis. Ini tentang kualitas pangan yang layak, aman, dan sehat,” ujarnya.
Dengan hasil uji yang menunjukkan seluruh bahan pangan aman, pihaknya memastikan agar masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan makanan yang disajikan melalui program ini.
“Ini bagian dari upaya kami membangun ketahanan pangan dan mewujudkan generasi yang sehat dan berdaya saing,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin