Setelah Magrib, air laut pasang langsung menyerbu permukiman warga, merendam ribuan rumah di Kecamatan Pulau Laut Utara dan sekitarnya.
Pantauan Radar Banjarmasin menunjukkan, air telah menutupi sebagian jalan, termasuk kawasan Siring Laut hingga tikungan menuju Pelabuhan Panjang.
Sejumlah pengendara terpaksa menerjang genangan air asin demi melanjutkan perjalanan.
Kastaniah (65), warga Kelurahan Kotabaru Hulu, mengaku pasrah menghadapi kondisi ini.
“Setiap akhir tahun rumah selalu tergenang air laut. Barang-barang harus diganjal supaya tidak rusak,” ujarnya dengan nada sedih.
Desa Hilir Muara, Rampa, Semayap, Dirgahayu, hingga Sungai Taib menjadi kawasan terdampak paling parah.
Tahun lalu, genangan di beberapa rumah bahkan mencapai lutut orang dewasa.
Fenomena tahunan ini membuat warga bingung mencari solusi, karena dianggap sebagai bencana alam yang tak terhindarkan.
Kepala BPBD Kotabaru, Hendra Indrayana, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak pasang laut yang diprediksi terjadi pada Desember 2025.
“Mitigasi dan kesiapsiagaan perlu dilakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.
BPBD juga mengeluarkan jadwal kritis pasang air laut: 5–11 November, 19–26 November, serta 3–10 dan 18–26 Desember 2025.
Seluruh camat diminta menyiapkan jalur evakuasi, lokasi pengungsian sementara, serta memberikan edukasi kepada warga.
Dalam imbauannya, BPBD meminta masyarakat memindahkan barang berharga ke tempat lebih tinggi dan menghindari aktivitas di pesisir saat air pasang.
“Dengan kesiapsiagaan yang terencana, diharapkan dampak kerugian dan korban jiwa dapat diminimalisir,” tutup Hendra. (*)
Editor : M. Ramli Arisno