Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Listrik Cuma 13 Jam Sehari, Warga Pulau Kerayaan Kotabaru Terpaksa Pakai Genset Habiskan Rp 4,5 Juta

Jumain Radar Banjarmasin • Jumat, 7 November 2025 | 16:20 WIB

RAPAT: Rapat Dengar Pendapat DPRD Kotabaru membahas listrik di Pulau Laut Kepulauan.
RAPAT: Rapat Dengar Pendapat DPRD Kotabaru membahas listrik di Pulau Laut Kepulauan.
KOTABARU – Warga di Pulau Kerayaan, Kerasian, dan Keramputan, Kecamatan Pulau Laut Kepulauan, Kotabaru, hanya bisa menikmati listrik dari pukul 17.00 hingga 06.30.

Sisanya, mereka harus bergantung pada genset yang mahal dan merepotkan.

Kondisi ini membuat Ketua Komisi II DPRD Kotabaru Abu Suwandi prihatin.

Baca Juga: Makanan Asin dan Manis Pemicu Hipertensi Hingga Gagal Ginjal, Ini Kata Dokter RSUD Amuntai

Politisi PAN ini bahkan pernah bermalam di pulau tersebut untuk merasakan langsung kehidupan tanpa listrik 24 jam.

"Ini sudah era digital. Digital itu butuh listrik. Bagaimana bisa desa-desa di kepulauan maju kalau listriknya cuma hidup setengah hari," ujar Abu Suwandi.

Ia menjelaskan, keterbatasan listrik menghambat peningkatan kualitas hidup, akses teknologi, kesehatan, hingga peluang UMKM.

Baca Juga: PPP HSS Bidik 3 Kursi di DPRD pada Pemilu 2029, Siap Buka Pintu untuk Kader Baru!

"Siang hari, segala aktivitas harus bergantung dengan genset. Ini sangat menghambat," katanya.

Kepala Desa Kerayaan H Sugianto membenarkan kondisi tersebut. Saat ini listrik hanya beroperasi 13 jam, kecuali hari Jumat dan Sabtu yang menyala 24 jam.

"Kami sudah sampaikan permintaan 24 jam ke Pemkab dan difasilitasi langsung oleh Pak Abu Suwandi ke PLN Kotabaru. Permintaan kami jelas, kami mau 24 jam," katanya kepada Radar Banjarmasin.

Baca Juga: Taman Van Der Pijl Banjarbaru Siap Dibuka Lagi Desember 2025 Usai Renovasi Trotoar

Dampak krisis listrik sangat memukul pelayanan publik. Kantor desa dan sekolah terpaksa beroperasi menggunakan genset.

"Untuk genset saja, kami harus menghabiskan 10 hingga 15 liter solar per hari. Biaya yang dikeluarkan kantor desa rata-rata Rp 4,5 juta per bulan. Ini sangat membebani," jelas Sugianto.

Menanggapi tuntutan warga, Abu Suwandi memfasilitasi rapat dengan PLN Kotabaru. Rapat dihadiri perwakilan PLN Kotabaru, Kades Kerayaan Utara H Samsul, Kades Kerasian M Sadli, dan Kades Keramputan Tayuddin.

Baca Juga: Siring Laut Kotabaru Disulap Jadi Bollywood pada Malam Besok, Lomba Lagu di Panggung Bak Film India!

"Harapan saya semua desa di kepulauan harus hidup listrik 24 jam. Kami butuh penambahan waktu operasional segera karena menyangkut taraf hidup dan produktivitas rakyat," tegas Abu Suwandi.

PLH Manajer PLN Kotabaru Taufik Akbar, saat dikonfirmasi Jumat (7/11), memastikan pihaknya menyambut positif usulan penambahan jam operasional listrik 24 jam.

"Kami menyambut baik. Memang berproses karena usulan ini harus kami laporkan dan usulkan ke PLN Kalselteng di Banjarbaru," katanya melalui telepon WhatsApp.

Baca Juga: Waspada! Stroke dan Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di RSUD Pambalah Batung Amuntai 2025

Taufik menambahkan ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, termasuk ketersediaan SDM dan BBM. Pihaknya meminta waktu sekitar dua minggu untuk memberikan kejelasan.

"Kami sudah minta waktu kejelasan, sekitar dua minggu untuk update selanjutnya. Intinya kami sangat menyambut baik," pungkasnya. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
#Pulau Kerayaan #listrik Kotabaru #PLN Kotabaru #krisis listrik kepulauan #DPRD Kotabaru