TANJUNG - Produksi jagung pakan di Tabalong digenjot. Itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan telur ayam ras yang masih sangat kurang untuk konsumsi masyarakat setempat.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakkan (Disbunnak) Tabalong, Syam'ani mengatakan hal itu diketahui dari peninjauan langsung ke para peternak ayam petelur di Tabalong.
"Kami diskusi dengan pengusaha ayam petelur di Tabalong, kebutuhan pakan ternaknya hanya dapat dua ton perbulan dari petani di Tabalong," katanya, Kamis (6/11/2025).
Kondisi itu, diyakini Syam'ani membuat sulitnya mengembangkan bisnis ayam petelur di Tabalong. Terlebih, jika mengandalkan pakan industri di pasaran harganya cukup mahal, mencapai Rp8.400 sampai Rp8.500 perkilogram.
"Kalau bisa mengolah jagung, biaya produksi pakan hanya Rp7.000 perkilogram, selisih Rp1.400," jelasnya.
Padahal, Disbunnak mencatat angka kebutuhan konsumsi telur di tengah masyarakat Tabalong mencapai 33 juta butir telur pertahun. "Belum lagi kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis," cetusnya.
Pemenuhan kebutuhan telur sebanyak itu pun, terpaksa didatangkan dari luar daerah.
Menurutnya, petani harus melihat peluang pemenuhan produksi jagung pakan tersebut, untuk membantu peternak ayam petelur untuk meningkatkan produksinya.
Untuk Pemkab Tabalong, khususnya pada Disbunnak sendiri tahun 2025 ini telah memyalurkan bantuan jagung pakan di lahan pertanian seluas 60 hektare.
Selain ada juga pada Dinas Ketahanan Pangan Perikanan Tanaman Pangan Hortikultura (DKPPTPH) Tabalong seluas 160 hektare.
"Insya Allah di pekan kedua Desembwr jagung pakan melalui APBD perubahan sudah tertanam.
Artinya, bulan Maret 2026 panen. Ini akan mampu memenuhi kebutuhan jagung pakan," tegasnya.