Salah satu yang menyampaikan kritik adalah Muhammad Sam'ani, seniman madihin asal Kecamatan Panyipatan. Ia mengapresiasi terselenggaranya festival tersebut, namun menyayangkan minimnya pelibatan seniman lokal.
"Ulun pribadi senang dengan adanya kegiatan ini. Mudah-mudahan ekosistem seni budaya di Tala semakin maju. Cuma yang ulun sayangkan, pengisi acaranya hampir 80 persen orang luar Tala. Padahal kalau diisi oleh kawan-kawan seniman daerah sendiri, insya Allah banyak yang berkompeten," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Kamis (6/11).
Baca Juga: Polres Banjar Periksa Korban Pengeroyokan Anak, Satu Alami Trauma Berat
Menurutnya, keterlibatan seniman lokal bukan hanya soal tampil di panggung, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpelaku seni di daerah.
"Itu juga bisa memperkuat rasa kebersamaan antarseniman di Tala," tambahnya.
Meski demikian, Sam'ani tetap mengapresiasi upaya Disdikbud Tala melalui Bidang Pembinaan Kebudayaan yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Daerah dalam penyelenggaraan TPAF 2025.
Baca Juga: Tapin Raih 3 Emas MMA Porprov XII Kalsel, Debut Bersejarah
"Insya Allah niatnya baik. Ulun berharap para pemuda Tala, khususnya peserta didik di sekolah-sekolah, bisa dilibatkan agar menambah wawasan mereka tentang seni dan budaya," harapnya.
Sam'ani juga menyoroti masih banyaknya seniman dan kelompok seni di Tala yang belum mendapat ruang atau perhatian.
"Kita ini banyak loh seniman. Misalnya Teater Damulka di Desa Kandangan Baru, Panyipatan, itu hampir punah tapi masih bertahan dan perlu diapresiasi. Dulu di Panyipatan juga banyak kelompok seni seperti madihin, kuda lumping, tari jaipong, sampai sinoman hadrah," tuturnya.
Baca Juga: Video Viral Tikus di Masakan Padang, RM Roda Baru Lapor Polisi
Ia menambahkan, di Kecamatan Takisung juga terdapat banyak seniman berpengalaman seperti Guru Syahrani AR, seniman madihin senior yang kerap tampil di Radio Tuntung Pandang FM, namun tidak dilibatkan dalam festival kali ini.
"Melihat TPAF ini, jujur ulun merasa menyayangkan kenapa hampir semua pemateri dari luar daerah. Apa Tala sudah tidak punya seniman lagi? Padahal di DKD sendiri banyak yang hebat, ada yang ahli aransemen, teater, dan tari. Mereka sebenarnya cukup untuk mengisi acara seperti ini," ucapnya.
Selain soal representasi, Sam'ani juga menyinggung aspek efisiensi anggaran.
Baca Juga: Batutut Sagu, Keterampilan dan Gotong Royong Ala Masyarakat Margasari Tapin
"Kalau membawa orang luar, tentu biayanya lebih besar. Padahal kalau dari dalam daerah, selain lebih hemat, juga lebih paham dengan budaya dan bahasa kita," pungkasnya.
Terpisah, Plt Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Tala, Maulidi Rahman, menjelaskan bahwa TPAF 2025 memang dikonsep untuk membangun kolaborasi seniman se-Kalimantan Selatan sekaligus memperkenalkan potensi wisata Pantai Batakan Baru kepada wisatawan luar daerah.
"Makanya kami membuka kesempatan bagi seniman luar daerah untuk berpartisipasi. Namun kami juga tidak menutup diri bagi seniman lokal yang ingin ikut serta, tentu sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada," jelas Maulidi.
Baca Juga: Gempa Tarakan Magnitudo 4,8 Rusak Ramayana dan Bandara Juwata
Ia menambahkan, dalam kegiatan tersebut juga turut berpartisipasi para siswa dari sekolah-sekolah yang berada di sekitar kawasan Pantai Batakan Baru. Keterlibatan pelajar ini diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap seni dan budaya lokal. (*)
Editor : M. Ramli Arisno