Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cahaya Sekara: Semangat Pantang Menyerah di Tanah Tenggelam

Ibnu Dwi Wahyudi • Jumat, 31 Oktober 2025 | 13:34 WIB

 

KAMPUNG HARUAN: Kolam ikan haruan milik Kelompok Borneo Haruan Desa Jirak, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong.
KAMPUNG HARUAN: Kolam ikan haruan milik Kelompok Borneo Haruan Desa Jirak, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong.

Di tengah genangan rawa dan keterbatasan ekonomi, lahir semangat baru dari tangan-tangan nelayan dan ibu rumah tangga Desa Jirak. Program Sekara Pertamina bukan hanya menghidupkan kembali potensi ikan Haruan di sana, juga menjadi cahaya menumbuhkan kemandirian dan kebanggaan Banua.

 

Ibnu Dwi Wahyudi, Tabalong

 

Jirak. Sebuah desa kecil di ujung selatan Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Luasnya tak seberapa—hanya sekitar 11,40 kilometer persegi—tapi di dalamnya terkandung hamparan rawa yang bagai samudra hijau di tengah daratan. Sementara permukimannya hanya 55 hektare.

Ketika musim hujan tiba, Jirak seakan tenggelam. Air meluap dari Sungai Tabalong, menelan jalanan tanah, sawah, dan kebun. Namun bagi warga Jirak, genangan bukan bencana—melainkan bagian dari napas kehidupan.

Mengingat, dengan luasan rawa tersebut, Jirak memiliki potensi perikanan air tawar yang hidup liar cukup besar dibandingkan desa lain.

Kalimat sebuah syair yang menyebut nenek moyangku adalah pelaut mungkin itu sesuai dengan kehidupan warga Jirak. Mereka banyak menjadi nelayan. Namun tidak di laut, melainkan di dataran rendah yang sering kali terendam air. "Warga Jirak banyak yang berprofesi menjadi nelayan. Berbagai jenis ikan air tawar menjadi hasil tangkapannya," kata Kepala Desa Jirak, Pansyah di kantor desanya. Namun yang paling primadona adalah ikan Haruan atau Gabus.

Menghadapi dua musim berbeda, hujan dan kemarau, ikan yang didapatkan nelayan Jirak berbeda jumlahnya. Ketika hujan, tidak banyak diperoleh, karena ikan mampu berenang ke sana ke mari melintasi seluruh kawasan. Sementara kemarau, berbeda. Ikan berkumpul dalam kubangan-kubangan alami yang membentuk kolam luas di tengah rawa. "Kalau kemarau, ikan terkumpul di sana. Warga banyak dapat ikan," terangnya.

Ikan Haruan paling banyak. ”Kadang ada juga nila, papuyu, dan sepat. Tapi Haruan itu raja di sini,” tambah Pansyah.

Luasan rawa Desa Jirak mencapai 46,95 hektare. Kolam rawa sendiri terbentuk dalam spot-spot. Tidak dalam satu hamparan. Banyak jumlahnya. Itu membuat Nelayan Jirak melalui medan tangkapan seperti itu tidak bisa hanya dilakukan satu malam.

Alat pancingnya beraneka ragam. Paling banyak mereka menggunakan pancing dan jala. Tapi hasilnya tidak seberapa. "Tidak banyak hasilnya. Ya, cukup untuk keluarga," jelasnya.

Musim hujan nelayan hanya menangkap ikan di sekitar permukiman tempat tinggalnya. Air sungai Tabalong yang meluap merendam. Mereka hanya dapat menjala tempat-tempat yang memungkinkan mendekat.

Nelayan Jirak tidak serakah mendapatkan ikan. Alat sederhana digunakan untuk menjaga ekosistem ikan agar tetap bertahan. Kebiasaan itu berlangsung turun temurun.

Pansyah menyebut, ini berkat sosialisasi Dinas Ketahanan Pangan Perikanan Tanaman Pangan Hortikultura (DKPPTPH) Tabalong. Mereka datang menyadarkan warga pentingnya menjaga keberlangsungan hidup ikan lebih lama.

Apalagi menangkap secara ilegal berupa setrum dan racun potas juga melanggar perundang-undangan. Bahkan, bisa dikenakan sanksi pidana. "Menangkap ikan menggunakan setrum dan potas tidak diperkenankan bagi warga Jirak," sebutnya.

Selain itu, para nelayan juga diajarkan bagaimana menjaga sesama nelayan untuk tidak melakukan pelanggaran. Tim pengawas yang beranggotakan nelayan pun dibentuk.

Ia mengatakan, kalau memang ada nelayan yang menangkap ikan secara ilegal, biasanya datang dari luar desa. Bahkan luar daerah Tabalong.

Pansyah mengakui nelayan di wilayahnya tidak banyak menghasilkan uang. Tak heran banyak yang termasuk dalam garis kemiskinan. Walaupun di antara mereka memiliki lahan persawahan luas, sering kali terendam banjir.

Angka kemiskinan Jirak sebanyak 516 jiwa dari 1.139 total jumlah penduduknya. Mereka terdiri dari 189 KK.

 

Lahirnya Kampung Haruan

Seiring berjalannya waktu, jumlah ikan semakin berkurang di Desa Jirak. Ini terjadi karena bertambahnya penduduk, dan adanya degradasi lingkungan.

Situasi itu memicu untuk berpikir cara membudidayakannya. Pansyah menceritakan gagasan warganya itu ke kepala daerah. Ternyata direspons positif. Tahun 2022 lalu, Kampung Haruan dicanangkan. Bantuan indukan Haruan diperoleh warga dari Pemkab Tabalong sebanyak 90 kilogram.

Kurangnya ilmu ternyata membuat warga kewalahan melakukan pemijahan. Proses menjadikan bibit pun gagal total. Indukan ikan juga tidak mampu bertahan.

Tidak menyerah dengan semua itu, warga kembali mencoba mengajukan permohonan bantuan berikutnya ke pemerintah. Tekad dan niat pengembangan Haruan terdengar hingga ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Bahkan, bantuan puluhan ribu bibit diberikan.

Hanya saja, pembudayaan bibit ini dirasa kurang optimal. Ikan predator ini memakan sesama, alias kanibal. Apalagi pemberikan pakan sulit dilakukan.

Tanpa sungkan Pansyah menceritakan keluh kesahnya itu ke Dinas Ketahanan Pangan Perikanan Tanaman Pangan Hortikultura (DKP2TPH) Tabalong. Kepala Bidang Perikanan pada DKPPTPH Tabalong, Agus Nurrahman menilai budi daya ikan Haruan memang sangat diperlukan di Desa Jirak. Selain jumlah ikan semakin berkurang, saat itu di Tabalong, Haruan selalu menjadi pendongkrak angka inflasi dalam tiga tahun terakhir. Untuk mengatasinya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pemkab Tabalong mencanangkan Kampung Haruan di Desa Jirak. Bahkan, ada keinginan pengembangan kawasan Haruan di setiap daerah di Kalsel. "Dari segi teknis, Desa Jirak memungkinkan kita tunjuk," ujar Agus.

DKPPTPH telah memberikan bantuan sepuluh kolam tanah tahun lalu. Jauh sebelumnya, juga ada bantuan pemasangan jebak ikan. Kala itu tujuannya meningkatkan produksi ikan air tawar hasil tangkapan untuk mengatasi kemiskinan di Jirak. Meski belum sepenuhnya berhasil. "Dari sisi produksi, sudah pernah ada sekitar 200 kilogram panen ikan. Meski itu belum maksimal," nilai Agus.

Pansyah pun diminta DKP2TPH Tabalong menghadap ke Pertamina EP Tanjung untuk mendapatkan bantuan. Dengan begitu, Agus berharap bantuan Pertamina itu membawa hasil memuaskan untuk mengangkat Desa Jirak menjadi desa yang lebih maju dan mengentaskan kemiskinan di dalamnya.

Meski Jirak tidak berdekatan atau berada di wilayah ring satu Pertamina EP Tanjung, badan usaha milik negara itu mau hadir menyalurkan bantuan kepedulian sosial perusahaan, alias Corporate Social Responsibility (CSR). "Awalnya mereka menurunkan tim untuk berkunjung ke Jirak," jelas Pansyah.

Sabrina Hani Andhita selaku Tim CSR Pertamina EP Tanjung berharap bantuan yang diberikan hasilnya terus berkelanjutan. ”Tidak hanya dijual hasil pembesarannya, tapi juga indukan dan bibitnya. Bibit ikan unggulan," terangnya.

Hani menjelaskan hasil pembesaran bisa dijual di pasar terdekat. Kecamatan Pugaan memiliki pasar ikan yang lokasinya berada di pinggiran jalan nasional Ahmad Yani. Tapi tidak hanya itu, Haruan hasil produksi bisa dijadikan indukan kembali untuk dikembangkan sebagai pembibitan Haruan. Ini akan menjadi siklus pembudidayaan. "Jika Balai Benih Ikan (BBI) Kambitin milik Dinas Ketahanan Pangan Perikanan Tanaman Pangan dan Hortikultura Tabalong membutuhkan bibit, bisa didatangkan dari Jirak," harapnya.

 

Sekara: Jejak Pertamina di Tengah Rawa

Tahun 2023, Pertamina EP Tanjung meluncurkan program Sentra Kampung Haruan (Sekara) Desa Jirak. Sebuah inisiatif yang dirancang bukan hanya untuk memberi bantuan, tapi menciptakan multiplier effect bagi ekonomi desa.

Awal bantuan turun tiga ribu ekor bibit Haruan, sekaligus pelatihan diberikan Pertamina. Selain bibit ikan dan permodalan usaha, Pertamina juga membantu gudang pakan ikan Haruan untuk membantu Borneo Haruan menyetok pakan ikannya.

Sepuluh warga yang tergabung dalam Kelompok Borneo Haruan mengikuti pelatihan pemijahan, pembibitan, pemberian pakan, hingga pembesaran.

Pelatihan menghadirkan seorang ahli perikanan air tawar. "Narasumbernya dari Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar Mandiangin," jelasnya.

Mereka akhirnya paham bagaimana mengatasi kendala pemijahan bibit ikan yang selama ini menjadi faktor utama kegagalan. "Ternyata ikan Haruan itu ikan yang setia dengan pasangannya. Membutuhkan kecocokan dulu, baru mau kawin," terang Ahmad Kartolo, anggota Kelompok Borneo Haruan yang juga ikut pelatihan.

Sekretaris Desa Jirak ini menyebut pelatihan yang dibuat Pertamina membuahkan perubahan dalam pola pemberian pakan. Haruan budi daya tidak lagi memakan sesama ikan. Pemberian pelet yang sebelumnya gagal ternyata juga ada solusinya. Tepatnya usai beberapa hari masa pijahan, harus langsung dibiasakan diberi pakan pelet. Jika terlewat, maka tidak mau.

Kolam pembesaran ikan milik Kelompok Borneo Haruan berjarak sekitar satu kilometer dari Kantor Desa Jirak. Ada sejumlah kolam yang dimiliki Borneo Haruan. Kolamnya cukup dalam sekitar 3 meter. Luasannya mencapai 10 meter dikali 20 meter persegi. Setiap kolam berisi seribu ekor Haruan yang hidup sehat di dalamnya. Terlihat Haruan sangat lahap saat diberi pelet. Ahmad Kartolo berharap, pola makan seperti itu dapat mempercepat pembesarannya. “Kalau berhasil, hasil panen bisa memenuhi kebutuhan bahan abon dan albumin. Sisanya dijual di pasar,” kata Ahmad.

Kolam-kolam itu rencananya akan dipagar menggunakan jaring mengitarinya. Maksudnya agar Haruan tidak kabur ketika luapan air sungai datang. Jirak memang mudah sekali banjir.

Apalagi, ikan satu ini terbiasa berpindah tempat saat musim hujan. Haruan melompat naik ke permukaan, lantas berlenggang-lenggok di tanah mencari lokasi air lain untuk hidup. "Kalau sudah dipagar jaring, tidak bisa pindah. Jadi ikannya tetap di dalam kolam," terangnya.

Untuk masa panen budi daya Haruan antara delapan sampai satu tahun lamanya. Harga di pasaran sekarang untuk Haruan Rp60 ribu perkilogram. Sebuah angka yang menjanjikan bagi nelayan seperti Luh Hadi, yang biasanya hanya mendapatkan Rp50 ribu sehari dari hasil tangkap liar. “Kalau budi daya berhasil, hidup kami bisa lebih baik,” ucap Luh Hadi.

 

PRODUK UKM: Ani, anggota Kelompok Barokah Desa Jirak, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong memperlihatkan produk abon ikan yang diproduksi melalui program bantuan PT Pertamina EP Tanjung.
PRODUK UKM: Ani, anggota Kelompok Barokah Desa Jirak, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong memperlihatkan produk abon ikan yang diproduksi melalui program bantuan PT Pertamina EP Tanjung.

Dari Dapur Rawa ke Pameran Nasional

Tidak hanya itu, Pertamina EP Tanjung menggandeng Balai Latihan Kerja (BLK) Tabalong. Aparat Desa Jirak lantas diminta mengumpulkan kalangan ibu-ibu desa untuk mendapatkan pelatihan membuat abon. Sebanyak 21 orang istri nelayan terkumpul. Mereka membentuk dua kelompok. Barokah sepuluh orang, dan Sukma Saji sebanyak 11 orang.

Emak-emak itu dengan tekun berlatih, dan akhirnya berhasil. Abon buatan mereka dikemas dengan kemasan menarik dan higienis.

Hasil produk program Kelompok Usaha Acil Desa Jirak (Kuas Jirak) itu diberi nama Bonila (Abon Ikan Nila) dan Boniga (Abon Ikan Gabus). Masing-masing dijual dengan takaran 50 gram dan 100 gram perkemasan.

Ketua Barokah, Sri Hartini, tanpa sungkan memperlihatkan produk abon kelompoknya. Bahkan mempersilakan untuk mencobanya.

Rasa abonnya sangat gurih dan renyah. Rasa ikan juga sangat terasa. Tidak kalah oleh bumbu yang diolah menjadi satu dengan ikan yang disangrai. "Cara membuat abon ini setelah dikukus daging Haruannya, digoreng sampai kering. Supaya tidak bau waktu dikemas, kami keringkan dulu di spinner untuk membuang minyaknya," jelasnya.

Dengan cara itu abon lebih tahan lama dalam kemasan. Rasanya juga tidak berubah beberapa bulan. Begitu dengan teksturnya.

Kemasan yang digunakan membungkus abon berbahan aluminium foil. Kemasan tersebut juga didesain menarik dengan corak warna-warni. Layaknya produk panganan yang sudah dikenal luas secara nasional.

Sri mengisahkan, bahan dasar abon diperoleh dari hasil tangkapan nelayan Jirak. Jumlahnya memang tidak menentu. Ketika ada banyak hasil tangkapannya, maka abon yang diolahkan juga banyak. Sementara hasil budi daya jumlahnya juga belum memadai. Jadi, masih memerlukan pasokan ikan dari luar desa. Terutama untuk ikan Haruan. "Biasanya jika empat kilogram ikan bisa menjadi satu kilogram abon," terangnya.

Produk abon ternyata cukup laris di pasaran. Apalagi di musim ibadah haji tiba. Pesanan diborong hingga puluhan kemasan. Jemaah haji di sekitar Desa Jirak membawanya untuk bekal ke tanah suci Makkah, Arab Saudi.

Penjualan abon juga sering kali dijual pada event-event pameran. Pertamina membawa produk Kelompok Barokah ke luar daerah. "Pernah dibawa ke Sidoarjo, Balikpapan, Bali, Jakarta dan, Bandung," sebut Sri.

Bagi warga yang semasa hidup tinggal di kawasan rawa, dibawa Pertamina ke luar daerah itu cukup memberikan kenangan tersendiri. Sebab momen itu sangat langka.

Produk paling laris, sebut Sri, adalah abon Haruan. "Rata-rata perbulan bisa dapat uang hasil penjualan Rp2 juta sampai Rp3 juta. Sebagian uang keuntungan dibagi ke anggota, dan untuk modal kembali," terangnya. Baginya, uang hasil jualan memang tidak seberapa besar. Tapi, cukup untuk membantu suami menambah pendapatan keluarga.

Tim CSR Pertamina EP Tanjung, Zain Apta Andhika dan Sabrina Hani Andhita, punya banyak kisah dari penyaluran bantuan ke Desa Jirak. Bahkan, tidak menyangka hasilnya luar biasa. Apalagi kelompok ibu-ibu yang dibina juga proaktif. “Waktu itu, kami meminta rekomendasi ke Balai Latihan Kerja Tabalong untuk mengadakan narasumbernya. Kemudian kami laksanakan pelatihan di Desa Jirak," ujarnya.

Pelatihan yang diberikan tidak sekadar membuat abon. Namun, juga pembuatan dan mendesain kemasan, melatih pemasaran melalui media online, hingga mempromosikan produk ke keluar daerah.

Hani mengakui ada kendala pada program ini. Salah satu persoalannya adalah bungkus abon yang mahal. Mereka harus memesan ke distributor utama di ibu kota Jakarta. Harga menjadi mahal, karena adanya tambahan biaya ongkos kirim ke Desa Jirak.

Soal label merek pada kemasan juga ada kendala. Kelompok ibu-ibu ini sempat perlu pendampingan untuk mendesain dan mencari butiran kata yang baik untuk menarik pembeli.

Kendala paling berat dalam pendampingan program ini adalah pemasaran. Ketika dibawa ke event kegiatan Pertamina di luar daerah, Hani mengakui cukup banyak peminat abon Haruan. Hanya saja, program CSR tidak selamanya bisa membantu. Kelompok usaha mikro kecil menengah ditarget menjadi mandiri. Supaya bisa berkesinambungan, juga dicoba dipasarkan di e-commerce alias secara online. Sekali lagi, ada saja kendala. Kali ini berupa ongkos kirim yang mahal. "Pesanannya banyak saja ketika ditawarkan di lapak pemasaran online. Tapi karena Jirak lokasinya jauh di pelosok, membuat ongkos kirim lebih mahal daripada harga abon," bandingnya.

Produk abon dijual seharga Rp 15 ribu untuk 50 gram, dan Rp 30 ribu per kemasan untuk 100 gram. "Banyak saja pemesanan di Shopee. Tapi banyak juga yang membatalkan," ujarnya.

 

ALBUMIN: Kepala Desa Jirak Pansyah, Field Manager Pertamina EP Tanjung Charlie P Nainggolan, dan Kepala Bidang Perikanan DKP2TPH Tabalong Agus Nurahman melihat albumin yang dibuat Kelompok Barokah.
ALBUMIN: Kepala Desa Jirak Pansyah, Field Manager Pertamina EP Tanjung Charlie P Nainggolan, dan Kepala Bidang Perikanan DKP2TPH Tabalong Agus Nurahman melihat albumin yang dibuat Kelompok Barokah.

Albumin: Inovasi Tak Terduga

Bantuan Pertamina EP Tanjung untuk membangkitkan Kampung Haruan tidak berhenti dengan memberikan pelatihan membuat abon Haruan. Tapi juga mengolah Haruan menjadi obat penyembuh luka pada tubuh manusia.

Albumin itu dibuat oleh Kelompok Barokah Desa Jirak. Mereka mendapatkan keterampilan membuatnya dari pelatihan gelaran Pertamina EP Tanjung yang mendatangkan seorang ahli dari Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar Mandiangin. Memasaknya, daging ikan Haruan setelah dibersihkan dan dikukus selama satu jam. ”Lalu dikukus kembali lima sampai enam jam, sampai mengeluarkan minyak. Minyak itulah albuminnya yang diambil," jelas Sri.

Minyak protein Haruan lalu dikemas dalam botol plastik bening kecil bertakaran 50 mililiter. Botol ditutup rapat, lalu dimasukkan ke dalam freezer atau lemari pendingin.

Untuk mendapatkan albumin yang baik tidak membutuhkan Haruan berukuran besar. Sedang saja. Tidak terlalu kecil, dan terlalu besar. Sekitar baterai ukuran D.

Ia merasa, membuat albumin tidak sulit. Hanya membutuhkan kesabaran. Tapi, jika dihitung-hitung keuntungannya, melebihi hasil dari membuat abon Haruan. "Tujuh kilogram ikan bisa dapat 10 botol albumin," jelasnya. 

Mereka menjual perbotol dengan harga Rp50 ribu. Menurutnya, itu sudah sangat untung, karena tidak begitu banyak bahan baku yang harus diolah. Modal paling mahal hanya untuk gas elpiji.

Kendala terbesar pada albumin buatan warga Jirak ada pada kemasan yang tidak mampu membuat albumin bertahan lama. Utamanya ketika dikeluarkan dari alat pendingin. Kalau dibawa jauh, tidak beku lagi. Mencair. ”Albuminnya berubah. Tidak layak lagi digunakan," terangnya.

Ia bercerita, memang ada yang pernah membawa albumin buatan kelompoknya ke Banjarmasin. Hasilnya tetap segar. Tapi, dibawa menggunakan termos khusus untuk menjaga albumin tetap dingin.

Untuk pemasaran albumin di sekitar Tabalong, Sri memastikan tidak ada kendala. Banyak saja yang sudah memesan. Apalagi, mereka juga siap melakukan pengantaran ke rumah pemesan.

Khasiat albumin Jirak tidak perlu disangsikan. Tidak ada konsumen yang mengeluhkannya. Bahkan sebaliknya. "Pembeli mengaku puas," cetusnya. "Pernah ada yang memakai sehabis operasi melahirkan. Diakui hasilnya baik. Saya sendiri juga pernah mencoba," ungkapnya. Sri pun sangat berharap dicarikan solusi membuat produk terusan albumin.

Hani selaku Tim CSR Pertamina EP Tanjung tidak memungkiri persoalan pengembangan albumin ini. "Makanya kami juga sedang memikirkan supaya ada solusi masalah kemasan albumin," jelasnya. Hani telah memiliki ide agar albumin diubah bentuknya dari cair menjadi kapsul. Tapi alatnya sangat mahal.

Kabid Perikanan pada DKP2TPH Tabalong mengakui produksi albumin Desa Jirak memang membutuhkan perhatian. Apalagi membutuhkan peralatan higienis. Di samping itu, perlu difasilitasi untuk didaftarkan ke Balai Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM).

Meski begitu, Agus memberi apresiasi atas semangat warga Jirak yang berupaya memproduksi albumin. "Apalagi ada dorongan dari Pertamina, kami sangat bersyukur. Ini membuat beban pemerintah daerah berkurang. Jujur saya kalau mengharap dari anggaran pemerintah, belum sampai," terangnya.

Pansyah bertekad mencarikan solusi kendala pengembangan albumin warganya. Ia akan menemui pejabat Pemkab Tabalong dan Pemerintah Provinsi Kalsel, selaku pihak yang mencetuskan Kampung Haruan. "Informasinya, pemerintah provinsi ada rencana untuk menghubungkan kami ke pabrik pembuatan kapsul albumin. Jadi bisa kami jual ke sana dalam bentuk botolan saja," jelasnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong, Catur Yudha Murtopo, menjelaskan fungsi albumin memang ampuh untuk penyembuhan luka. "Biasanya dapat membantu regenerasi sel," terangnya. Mengapa bisa demikian? Disebabkan adanya protein hewani dan berbagai mineral dalam kandungan albumin.

Ia menambahkan, albumin sebenarnya tidak hanya bisa didapatkan dari ikan Haruan. Bisa pula diperoleh dari telur. Namun, sifatnya hanya sebagai suplemen.

Albumin dari Haruan memiliki sejumlah kelebihan dibanding albumin telur. Salah satunya masalah alergi. "Kalau dari Haruan jarang ada yang alergi. Beda dengan telur," bandingnya.

Supaya luka dapat sembuh secara maksimal, Catur Yudha Murtopo menegaskan tidak boleh hanya mengandalkan albumin saja. Paling utama yang harus diperhatikan adalah pola makan seimbang. Sesuai program Isi Piringku yang mengharuskan adanya asupan gizi seimbang pada setiap piring ketika makan. "Sebaiknya jika makan ditambahkan dengan albumin sebagai suplemen. Dengan begitu, hasilnya lebih optimal," yakinnya.

Khusus untuk kondisi kesehatan tertentu, juga harus memperhatikan peningkatan albumin yang dikonsumsi. Untuk ini, perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. "Dokter dapat membantu menentukan penyebab masalah protein atau albumin, serta merekomendasikan diet yang sesuai dengan kondisi kesehatan," jelasnya.

 

Rumah Produksi Simbol Harapan

Puncak dari perjalanan panjang ini terjadi pada awal September 2025. Field Manager Pertamina EP Tanjung, Charlie P Nainggolan, datang langsung ke Jirak. Di hadapan warga, ia meresmikan Rumah Produksi Sekara sebagai tonggak penting pemberdayaan ekonomi lokal. Pemotongan pita sebagai tanda peresmian dilaksanakan di hadapan perwakilan pejabat DKPPTPH, Kecamatan Pugaan dan aparat Desa Jirak, serta masyarakat. “Rumah produksi ini adalah hasil dari proses panjang pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada keberlanjutan,” ujar Charlie dalam sambutannya.

Menurutnya, rumah produksi ini menjadi tonggak penting bagi program Sekara mendorong ekonomi berbasis potensi lokal.

Ia bersyukur bantuan dari hulu hingga ke hilir produk Haruan berjalan lancar dan diterima sangat baik oleh masyarakat. "Selain menyediakan minyak dan gas, kami (Pertamina, Red) juga berkomitmen bersama pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bantuan CSR ini kami harapkan dapat mengena langsung kebutuhan masyarakat," jelasnya.

Terhadap kelompok yang sudah terbentuk, Charlie berharap dapat terus bertahan, dan memancing lebih banyak masyarakat yang terlibat dan merasakan manfaatnya.

Pada kesempatan itu, Charlie menyempatkan diri melihat langsung semua sudut rumah produksi Desa Jirak. Rumah produksi itu berdiri di depan rumah anggota Kelompok Barokah. Tiga ruang sederhana. Pertama, ruang etalase produk pada bagian depannya. Kedua, ruang produksi berisi banyak peralatan. Mulai dari kompor, peralatan dapur, hingga freezer atau alat pendingin. Ketiga, tempat membersihkan Haruan.

Kelompok Barokah memandu Charlie menjelaskan bagaimana teknis kerja di rumah produksi secara rinci pada setiap ruang dan peralatan. Dengan adanya rumah produksi, masyarakat memiliki wadah memadai untuk mengembangkan usahanya. Walaupun, menurut Charlie, rumah produksi ini masih perlu dievaluasi. "Kami harapkan Sekara tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di desa. Supaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan," katanya.

Kini, aroma abon haruan kerap tercium dari rumah-rumah di Jirak.

Dapur yang dulu hanya mengepul untuk makan keluarga, kini menjadi ruang produksi kecil yang menopang ekonomi rumah tangga.

Anak-anak tersenyum melihat ibunya sibuk menimbang, menggoreng, mengemas. Para lelaki di Jirak mulai mengolah kolam. Bukan lagi sekadar menjala di rawa.

Dari tangan-tangan perempuan desa, lahir produk yang membawa nama besar Banua hingga ke luar daerah. Dari rawa yang dulu dianggap beban, muncul harapan baru bernama Sekara.

Desa Jirak kini tak lagi sekadar titik di peta Tabalong. Ia telah menjelma menjadi simbol ketahanan, inovasi, dan semangat hidup masyarakat pesisir rawa. Seperti Haruan yang bisa hidup di air keruh sekalipun. Warga Jirak telah membuktikan bahwa dari rawa, mereka bisa tumbuh, bukan sekadar bertahan.(*)

Editor : Eddy Hardiyanto
#Tabalong #Pertamina #sekara #Haruan