BANJARMASIN — Rencana pengembangan sistem transportasi massal terintegrasi melalui BTS Banjarbakula untuk dua klaster strategis, yakni Banua Anam dan Saijaan Bersujud terus dimatangkan. Proyek ini digadang menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah, sekaligus pengungkit pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah.
Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Fitri Hernadi menyampaikan bahwa program tersebut masih dalam tahap kajian menyeluruh, dan ditargetkan rampung pada tahun depan. “Kajian semuanya ditarget selesai di 2026. Setelah itu, tinggal keputusan pimpinan dan kekuatan anggaran Pemprov, apakah bisa dieksekusi pada 2027, 2028, atau 2029,” terangnya.
Ia memaparkan, kajian yang sedang berjalan mencakup pemodelan rute, pemetaan kawasan prioritas, serta analisis kebutuhan transportasi di dua klaster yang memiliki karakter ekonomi dan geografis berbeda. Meski demikian, keduanya dinilai sama-sama vital dalam mendukung konektivitas dan pembangunan wilayah.
Pengembangan transportasi di Banua Anam diarahkan untuk mendukung pusat-pusat produksi seperti pabrik karet di Hulu Sungai Tengah, Kawasan Industri KPI Seradang di Tabalong (hilirisasi tambang dan bahan bangunan), serta Kawasan Industri Tapin (TIIPE) yang bergerak di industri agro. Wilayah tersebut juga menjadi lokasi pengembangan sentra produksi pangan terpadu yang modern dan adaptif terhadap perubahan iklim, guna menjaga produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.
Sementara untuk distribusi Banua Anam mengandalkan simpul logistik seperti di Pelabuhan Margasari (Tapin), Terminal Induk dan Cargo Pasar Kramat (Hulu Sungai Tengah), Terminal Barang Murung Pudak dan Kelua (Tabalong), Terminal Penumpang Kandangan (Hulu Sungai Selatan), Terminal Banua Lima (Hulu Sungai Utara) dan Terminal Barang Pasar Batu Mandi dan Haur Batu (Balangan).
Fitri menekankan, dari sisi pariwisata, kawasan ini memiliki daya tarik seperti Geopark Meratus, Loksado, serta sentra kerajinan dan kuliner. Dishub Kalsel menilai konektivitas menuju lokasi-lokasi wisata tersebut sebagai prioritas dalam penyusunan trayek transportasi.
Sedangkan untuk Klaster Saijaan Bersujud pengembangan transportasi di klaster pesisir lebih banyak mendukung kawasan industri dan pelabuhan. Antara lain Kawasan Industri Batulicin (Tanah Bumbu), KEK Setangga (hilirisasi sawit) dan Kawasan Industri Sebuku, KEK Mekar Putih, dan Kawasan Industri Tarjun.
Sementara untuk pusat distribusi tersebar di pelabuhan dan bandara utama menyasar pelabuhan KEK Setangga, Batulicin, Satui, Bandara Bersujud, Terminal Barang Angsana dan Kersik Putih (Tanah Bumbu), Pelabuhan Kotabaru, Stagen, Sebuku, Mekar Putih. “Termasuk Bandara Gusti Syamsir Alam dan Rencana terminal di Sengayam (Kotabaru),” jelasnya.
Selain industri, kawasan ini juga memiliki potensi wisata bahari dan alam seperti Samber Gelap, Teluk Tamiang, Pulau Denauan, Pulau Pemalikan, Pulau Birah-Birahan, Pantai Gedambaan, Goa Temuluang, Bukit Mamake, dan Air Terjun Tumpang Dua. “Kami ingin masyarakat dan wisatawan lebih mudah bergerak antarwilayah. Di Saijaan Bersujud, arah pengembangannya tidak hanya transportasi industri, tapi juga akses ke kawasan wisata unggulan,” tambahnya.
Disampaikannya, setelah kajian rampung, hasilnya akan dilaporkan kepada gubernur sebagai dasar keputusan politik dan pembiayaan. Yang paling penting pemerintah kabupaten untuk aktif menyiapkan trayek lokal dan sarana pendukung seperti halte dan terminal penumpang. “Transportasi massal bukan proyek provinsi semata, tapi proyek bersama. Kalau seluruh kabupaten siap bergerak, konektivitas antarkawasan bisa terwujud lebih cepat,” tegasnya.
Untuk diketahui, saat ini Bus Trans Banjarbakula hanya menyasar beberapa daerah, meliputi Banjarmasin, Banjarbaru, Tanah Laut, Barito Kuala dan Banjar.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief