Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Teater Tradisi Mamanda Pecah Buih di Galumbang Buih di Festival Akrab Buat Penonton Gemetar, Tawa Pecah Akibat Raja Mamanda

Jumain Radar Banjarmasin • Kamis, 23 Oktober 2025 | 12:40 WIB
RAMAI: Penonton menyaksikan pertunjukan Teater Tradisi Mamanda di Festival Akrab 2025. Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin.
RAMAI: Penonton menyaksikan pertunjukan Teater Tradisi Mamanda di Festival Akrab 2025. Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin.

KOTABARU- Festival Ajang Kreatifitas Bamega (AKRAB) 2025 di Siring Laut, Rabu (22/10) malam, tiba-tiba diuji.

Hujan gerimis turun. Namun, pertunjukan Teater Tradisi Mamanda yang lama dinanti, justru membuktikan kekuatannya.

Tak satupun penonton beranjak, mereka memilih basah demi tontonan budaya.

Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, Mamanda dengan lakon "Pecah Buih di Galumbang Rasa" hadir sebagai bagian dari rangkaian Hekrafnas, memecah kesunyian dan mengobati rindu publik.

Kembalinya teater rakyat Banjar ini, setelah sekian lama absen, menjadi penanda bahwa tradisi bukan cuma arsip, melainkan energi hidup yang mampu menantang hiburan modern.

Sebagai informasi, Mamanda adalah seni teater tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan, berbentuk pertunjukan rakyat dengan lakon yang bersifat humoris. Nama Mamanda sendiri berasal dari sapaan paman yang terhormat dalam bahasa Banjar.

Pertunjukan ini menggabungkan seni gerak, nyanyi, dan tari untuk menceritakan berbagai kisah dari sejarah kerajaan, cerita rakyat, hingga kehidupan sehari-hari, serta berfungsi sebagai hiburan dan media pendidikan.

Puncak keriuhan terjadi karena drama spontan yang tak terencana. Saat alur cerita mencapai klimaks, salah satu penonton bernama Ibad tiba-tiba ditarik sang Raja untuk masuk ke dalam panggung.

Sontak, Ibad langsung disergap demam panggung. Mukanya tidak pede seperti gemetar, dan ia kesulitan berbicara di hadapan khalayak ramai.

Momen canggung yang lucu ini justru meledak menjadi tawa massal. Adegan ini menegaskan karakter unik Mamanda sebagai teater rakyat yang interaktif dan selalu dekat dengan penontonnya.

Bahkan, saat gerimis mulai menyentuh area pertunjukan, penonton menunjukkan komitmen luar biasa. Ada yang berteduh, tapi banyak yang tetap tegak berdiri menikmati penampilan sambil diguyur hujan.

Bagi masyarakat, ini adalah pengobat rindu masa kecil. Ia mengingat zaman dulu Mamanda sering ditampilkan Dihari hari besar.

"Dulu saya ingat waktu kecil, sering nonton acara Mamanda, Wayang Kulit, Balamun dan lain lainnya dan sekarang jarang tapi ini ditampilkan kembali, saya sangat senang,” ungkap Gilang Ramadhan, salah satu warga yang hadir.

Di sisi Pemkab, Kepala Bidang Event, Pertunjukan dan Ekraf Disparpora Kotabaru, H Rudi Nugraha mewakili Kadisparpora Kamis (23/10) saat dikonfirmasi menyatakan kepuasannya.

“Alhamdulillah masyarakat terlihat puas dan banyak yang senang, ini adalah komitmen kami di Pemkab Kotabaru dalam berikan hiburan gratis,” syukurnya.

Rudi menegaskan, kembalinya Mamanda memperkuat visi strategis Ekraf daerah. Seni pertunjukan, seperti Mamanda (teater rakyat), tarian, atau musik tradisional, memiliki fungsi ganda yaitu melestarikan budaya sekaligus menggerakkan mesin ekonomi.

"Seni pertunjukan tradisional dapat menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif (Ekraf)," ujar Rudi.

Ia merinci manfaatnya, meningkatkan pariwisata, menciptakan lapangan kerja bagi seniman, dan meningkatkan ekonomi lokal.

“Ini menunjukkan bahwa melestarikan teater tradisi bukan lagi sekadar tugas budaya, melainkan sebuah strategi ekonomi untuk mengembangkan Ekraf secara berkelanjutan,” tutupnya mengakhiri.

Editor : Arif Subekti
#Kotabaru #Budaya #ekraf #festival #melestarikan