MARTAPURA - Meski belum juga digelar, Bahtsul Masail spesial Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang diselenggarakan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) PCNU Kabupaten Banjar sudah jadi perbincangan hangat di media sosial.
Salah satu akun Instagram lokal, @kalamkalimantan, mengunggah informasi bahwa forum ulama itu akan membahas topik menarik dan sensitif. Yakni hukum mengendorse pelaku LGBTQ+.
Dalam unggahan yang disertai caption panjang, disebutkan bahwa fenomena tersebut kini banyak dilakukan oleh para pelaku UMKM di Kalimantan Selatan, bahkan oleh biro travel umrah.
“Lembaga Bathsul Masail Nahdlatul Ulama PCNU Kab Banjar akan menggelar Bathsul Masail bertepatan pada Hari Santri Nasional... Menariknya, salah satu permasalahan yang akan dibahas ialah hukum mengendorse pelaku LGBTQ+... Semoga hasil putusan dari LBMNU Kab Banjar ini bisa meningkatkan moralitas masyarakat Kalsel lagi agar tidak menormalisasi penyimpangan,” tulis akun itu dalam unggahannya.
Ketua Pelaksana Hari Santri Nasional 2025 Kabupaten Banjar, Ainuddin, membenarkan bahwa isu tersebut memang menjadi salah satu bahasan utama dalam forum Bahtsul Masail tahun ini.
“Bahtsul Masail ini kita adakan sebagai wadah musyawarah keagamaan,” ungkapnya saat usai pembukaan Hari Santri Nasional di RTH Ratu Zalecha Martapura, Rabu (22/10/2025) malam.
Di sini, para ulama dan santri akan mengkaji fenomena sosial kekinian agar masyarakat memahami persoalan dengan dasar ilmu dan pandangan ulama
Menurutnya, Bahtsul Masail kali ini digelar pada Kamis (23/10/2025) malam di RTH Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura, usai salat Isya. Forum akan dihadiri para kiai, santri, dan tokoh masyarakat.
“Kita berharap hasil kajian para ulama LBMNU nanti bisa menjadi pedoman moral bagi masyarakat,” tegasnya.
Bagi kalangan santri, jelas Ainuddin, Bahtsul Masail bukan sekadar forum diskusi, melainkan tradisi intelektual khas Nahdlatul Ulama yang sudah berjalan sejak lama.
Dalam forum ini nanti, para ulama dan santri mengkaji persoalan agama, sosial, dan hukum dengan pendekatan fikih klasik (kutub al-turats).
Dari situ lahir keputusan-keputusan hukum (istinbath al-ahkam) yang menjadi rujukan moral dan spiritual masyarakat.
“Bahtsul Masail selalu dinanti karena selain memperkaya wawasan keagamaan, juga menjadi sarana menjaga nilai-nilai Islam di tengah tantangan zaman,” tutur Ainuddin.
Dengan semangat Hari Santri bertema ‘Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia’, Ainudin berharap agar momen ini tidak hanya tidak hanya memperkuat ukhuwah antar santri dan ulama.
“Tapi juga menjadi penegasan bahwa Islam memiliki pandangan jelas terhadap fenomena sosial modern,” ucapnya.
—----
Apa Itu Bahtsul Masail?
Bahtsul Masail merupakan tradisi khas Nahdlatul Ulama (NU) yang berfungsi sebagai forum musyawarah para ulama dan santri untuk membahas persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Melalui diskusi mendalam berbasis kitab-kitab klasik (kutub al-turats), forum ini menghasilkan pandangan hukum Islam (istinbath al-ahkam) atas berbagai fenomena aktual.
Pada momen peringatan Hari Santri Nasional, Bahtsul Masail menjadi ajang intelektual sekaligus spiritual.
Selain memperkaya wawasan keagamaan, kegiatan ini mempererat silaturahmi antara ulama, santri, dan masyarakat umum.
Editor : Arif Subekti