Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Budaya Bahurup Rambut Pada Anak Baru Lahir di HSS, Tradisi yang Mulai Ditinggalkan Masyarakatnya

Salahudin Radar Banjarmasin • Kamis, 16 Oktober 2025 | 07:07 WIB
CUKUR RAMBUT: Harus berhati-hati saat mencukur rambut bayi.
CUKUR RAMBUT: Harus berhati-hati saat mencukur rambut bayi.

Tahulah pian, sejak zaman dahulu di Desa Jelatang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), ada tradisi bahurup (pertukaran) rambut dengan duit koin bagi anak baru lahir.

Pemerhati budaya HSS, Dedy Wahyuni mengatakan tradisi bahurup rambut dengan duit koin ini sering dilakukan setelah anak baru lahir melakukan batasmiah atau pemberian nama bagi bayi baru lahir. “Sehari setelah batasmiah, baru keluarga melakukan tradisi ini,” ujarnya.

Tradisi ini biasanya dilakukan pagi atau sore hari. Keluarga didampingi tokoh masyarakat mencukur rambut bayi lahir sampai habis di rumah.

Rambut sudah terpotong dikumpulkan, kemudian ditimbang untuk mengetahui beratnya. Selanjutnya ditukar dengan duit koin. “Duit koin tidak boleh kurang dari timbangan rambut. Lebih boleh,” katanya.

Duit koin dan rambut selanjutnya dibungkus menjadi satu dalam kain berwarna kuning untuk dilarutkan ke sungai sebagai kepercayaan warga agar anak baru lahir selamat sampai sukses di dunia. “Setelah dilemparkan ke sungai, anak dimandikan di sungai,” tuturnya.

Menariknya, tradisi ini dulunya bagi warga yang mampu ada menukar rambut dengan logam mulia. “Dulu bagi orang mampu pernah ada bahurup rambut dengan emas. Tapi bagi yang tidak mampu dengan duit koin,” sebutnya.

Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai ditinggal warga. Hanya beberapa keluarga saja yang melakukannya. “Warga mulai banyak tidak melakukan tradisi ini, karena menurut mereka perbuatan yang sia-sia,” pungkasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Anak #Budaya #hulu sungai selatan #tradisi