Ratusan siswa tumbang usai santap makanan program gizi gratis. Kini, semua mata tertuju pada dapur penyedia.
*****
MARTAPURA - Kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banjar masuk tahap investigasi mendalam. Apalagi korbannya sangat banyak. Jumlah siswa terdampak mencapai 130 orang.
Dugaan keracunan makanan massal ini setidaknya mulai menemukan titik terang. Hasil uji laboratorium sementara mengungkap adanya kandungan nitrat dalam menu nasi kuning dan sayur yang dikonsumsi para siswa, Kamis (9/10).
Temuan itu disampaikan langsung oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar, dr H Noripansyah usai melakukan pemeriksaan bersama tim gabungan dari Dinkes Provinsi Kalimantan Selatan dan Puskesmas Martapura. “Dari hasil uji laboratorium sementara, nasi kuning dan sayur positif mengandung nitrat. Zat ini berpotensi menimbulkan gejala keracunan seperti yang dialami para siswa,” ungkap Noripansyah.
Ia menjelaskan, sejauh ini sampel ayam suwir yang juga diambil dari menu MBG tidak menunjukkan hasil positif. Namun, pemeriksaan masih berlanjut untuk memastikan sumber kontaminasi sebenarnya. “Untuk ayam belum terbaca hasilnya. Sementara, yang menunjukkan hasil positif hanya nasi kuning dan sayur. Pemeriksaan lanjutan masih berjalan,” ujarnya.
Untuk sementara, dapur SPPG Tungkaran berada dalam masa pemantauan selama 14 hari ke depan, sambil menunggu hasil uji laboratorium lengkap yang dilakukan oleh Dinkes Banjar, Dinkes Provinsi Kalsel, dan kepolisian. “Kami belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya, apakah dari bahan, air, atau faktor lain. Semua masih kami dalami,” tegas Noripansyah.
Menurut Noripansyah, nitrat bisa muncul akibat bahan makanan atau proses pengolahan. Tim ahli keamanan pangan kini tengah menelusuri asal mula kandungan tersebut. “Zat ini bisa muncul dari bahan makanan tercemar, atau proses pengolahan yang salah. Jadi kami perlu mendalami lagi dengan uji laboratorium lanjutan,” sebutnya.
Wakapolda Kalsel, Brigjen Pol Golkar Pangarso Rahardjo Winarsadi menegaskan penyebab pasti belum dapat disimpulkan, lantaran masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan yang dikirim ke laboratorium forensik di Surabaya. “Kami menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan sumber penyebab dugaan keracunan massal ini,” ujarnya saat meninjau langsung korban, Jumat (10/10).
Polda Kalsel telah membentuk tim gabungan dari Satgas Pangan, Polres Banjar, dan Polres Banjarbaru guna mempercepat penyelidikan. “Kami bekerja sama dengan tim laboratorium untuk memperoleh hasil yang akurat dan objektif,” tegasnya.
Dari laporan rumah sakit, 10 siswa masih menjalani perawatan intensif akibat gejala cukup berat seperti muntah dan sakit perut. Sementara lainnya mengalami gejala ringan dan sudah pulih.
Sanitasi Dapur Jadi Sorotan
Fokus penyelidikan kini tertuju pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tungkaran. Dapur ini salah satu penyuplai makanan MBG di wilayah Martapura.
Tim gabungan dari Kodim 1006/Banjar, Dinas Kesehatan, BPOM, dan DPRPKLH Kabupaten Banjar telah melakukan pemeriksaan langsung di lokasi. Hasil investigasi awal mengarah pada dugaan sanitasi dapur yang belum memadai. “Kesimpulan sementara adalah masalah sanitasi. Bukan hanya soal cara memasak, tapi juga saat pengemasan dan penyimpanan makanan. Semuanya harus dibenahi total,” tegas Dandim 1006/Banjar, Letkol Inf Bambang Prasetyo Prabujaya.
Ia menambahkan, ruang pengemasan makanan di dapur tersebut juga perlu perbaikan sirkulasi udara agar standar higienitas terpenuhi. “Blower atau sistem ventilasi wajib ada. Supaya sirkulasi udara saat proses packing lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan air sumur di dapur tersebut turut menjadi perhatian. Sampel air sudah diambil oleh BPOM dan Dinas Kesehatan untuk diuji di laboratorium. Ini untuk memastikan kesesuaian dengan standar air layak konsumsi.
Sebagai langkah awal, operasional dapur SPPG Tungkaran telah dihentikan sementara sampai hasil laboratorium keluar. “Keputusan lanjutan akan disesuaikan setelah hasil uji laboratorium diterima,” terang Letkol Bambang.
Dinkes Banjar menilai dapur tersebut sebenarnya sudah memenuhi standar teknis dasar. Seperti pemisahan dapur basah dan kering, serta keberadaan blower sesuai ketentuan. Namun, tim menilai masih perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan keamanan pangan secara menyeluruh. “Fasilitasnya cukup baik, tapi kami tetap akan periksa lebih dalam. Termasuk sanitasi dan kompetensi penjamah makanannya,” ujar Noripansyah.
Fakta lain juga mencuat, beberapa penjamah makanan belum memiliki sertifikat pelatihan keamanan pangan. “Pelatihan sebenarnya sudah dijadwalkan Sabtu ini, tapi insiden ini keburu terjadi. Kami percepat agar sebelum akhir Oktober, minimal separuh pekerja dapur sudah bersertifikat,” katanya.
Selain pemeriksaan dapur, tim Dinkes juga menelusuri faktor lingkungan. Kasi Penyehatan Lingkungan Dinkes Banjar, Rusmiati Agustina mengungkapkan dapur SPPG menggunakan air sumur gali untuk kebutuhan memasak dan mencuci. “Sumber air masih perlu diuji ulang, karena bisa berpengaruh terhadap hasil makanan. Pemeriksaan sanitasi air dan pembuangan limbah akan kami lanjutkan besok,” terang Rusmiati.
Ia menyebut, tim sedang mengisi Form Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang berisi ratusan indikator untuk menilai tingkat risiko dapur dan menentukan langkah perbaikan.
Siapkan Evaluasi Total
Letkol Bambang menegaskan pihaknya bersama Pemkab Banjar dan BPOM berkomitmen memperkuat pengawasan sanitasi dapur penyedia MBG. Menurutnya, program ini adalah upaya baik pemerintah untuk memenuhi gizi anak bangsa. Tapi, harus dijalankan dengan prinsip kebersihan total. “Kami akan bentuk tim edukasi dan pengawasan sanitasi,” katanya.
Rapat koordinasi lintas instansi dengan melibatkan seluruh dapur penyedia MBG di wilayah Banjar dan Banjarbaru juga akan segera digelar. Tujuannya untuk memastikan semua pihak menerapkan standar keamanan pangan yang ketat. Diakuinya, bahwa kasus ini menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak.
Meski sebagian besar siswa sudah pulih, investigasi terhadap kebersihan dapur dan standar distribusi makanan MBG dipastikan tidak akan berhenti sampai hasil uji laboratorium keluar. “Program MBG harus tetap berjalan, tapi dengan sistem pengawasan yang lebih ketat. Gizi yang baik tak boleh berujung petaka,” tegas Letkol Bambang.
Kapolres Banjar, AKBP Fadli mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyita sampel makanan dari dapur SPPG Tungkaran untuk keperluan uji laboratorium. “Kami masih menunggu hasil lab untuk memastikan apakah makanan dari program MBG menjadi penyebab utama. Begitu hasil keluar, kami akan sampaikan,” ucapnya.
Investigasi Keracunan MBG
Jumlah Korban:
- Total siswa terdampak: 130 orang
- Dirawat intensif: 10 siswa
- Sebagian besar: sudah pulih dan pulang
Langkah Penyidikan:
- Hasil uji laboratorium sementara dari Dinkes Banjar mengungkap adanya kandungan nitrat dalam menu nasi kuning dan sayur yang dikonsumsi para siswa.
- Sampel makanan dikirim ke Lab Forensik Surabaya.
- Polda Kalsel bentuk tim gabungan: Satgas Pangan, Polres Banjar, Polres Banjarbaru.
- Menunggu hasil uji laboratorium untuk pastikan sumber penyebab.
Dapur SPPG Tungkaran Jadi Fokus:
- Diduga ada masalah sanitasi saat memasak dan mengemas.
- Sirkulasi udara dan ventilasi dinilai tidak layak.
- Penggunaan air sumur ikut diuji.
- Operasional dapur dihentikan sementara.
Langkah Lanjutan:
- Akan ada evaluasi total dapur penyedia MBG.
- Rapat koordinasi lintas instansi segera digelar.
- Pemkab Banjar, BPOM, dan Kodim 1006 bentuk tim edukasi & pengawasan sanitasi.
- Program MBG tetap berjalan, tapi dengan pengawasan lebih ketat.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief