Sebelumnya, status ini diberlakukan sejak 12 Agustus 2025 oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, H Rahmi, menyampaikan bahwa selama masa siaga, kondisi di lapangan relatif aman dan terkendali. Meski sempat ditemukan beberapa titik panas (hotspot), penanganan cepat berhasil dilakukan berkat sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat.
“Memang ada beberapa titik hotspot yang kami tindaklanjuti. Sebagian besar berasal dari wilayah tambang dan aktivitas pembukaan lahan warga. Namun, situasi terkendali karena masyarakat sudah menerapkan kearifan lokal dalam membuka lahan,” jelasnya, Rabu (8/10).
Ia menambahkan, musim kemarau tahun ini tergolong kemarau basah dengan curah hujan yang masih turun minimal sekali dalam sepekan. Kondisi ini sangat membantu menekan risiko kebakaran lahan yang lebih luas.
“Jika dibandingkan tahun lalu, kejadian kebakaran di Balangan musim kemarau 2025 menurun cukup signifikan,” tambahnya.
BPBD Balangan juga aktif melakukan berbagai upaya pencegahan, mulai dari patroli rutin, sosialisasi, hingga edukasi langsung kepada masyarakat di tingkat desa.
“Kami rutin memberikan imbauan menggunakan pengeras suara dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memasang spanduk peringatan bahaya karhutla,” ujar Rahmi.
Menurut rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Balangan kini memasuki masa transisi menuju musim hujan.
“Kemungkinan besar akhir Oktober ini kita sudah mulai memasuki musim hujan,” kata Rahmi.
Meski status siaga karhutla sudah dicabut, BPBD Balangan tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan cuaca ekstrem yang berpotensi memperpanjang ancaman kebakaran.
Selain itu, BPBD mulai bersiap menghadapi potensi bencana banjir, puting beliung, dan tanah longsor (bantingsor) yang biasanya muncul saat musim penghujan.
“Persiapan menghadapi musim penghujan ini merupakan agenda rutin tahunan. Kami sudah menyiapkan langkah antisipasi termasuk mitigasi dan kesiapsiagaan personel sejak awal,” jelas Rahmi.
Penetapan status siaga bantingsor nantinya akan menyesuaikan dengan keputusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, yang akan diikuti oleh kabupaten dan kota.
Beberapa wilayah rawan bencana di Balangan, terutama yang dilalui aliran sungai, antara lain Kecamatan Halong, Juai, Paringin Selatan, dan Lampihong.
“Kami berharap musim hujan nanti tetap aman terkendali. Kami bersama instansi terkait terus menyiagakan personel dan melakukan upaya mitigasi di lapangan,” ujarnya.
Selain koordinasi dengan berbagai instansi, BPBD Balangan juga melibatkan komunitas masyarakat untuk kegiatan pembersihan sungai dan saluran air sebagai upaya pencegahan banjir.
“Kami bekerjasama dengan komunitas melakukan pembersihan sungai agar potensi banjir dapat diminimalkan,” tutup Rahmi.
Editor : Sutrisno