Kegiatan dimulai Kamis (2/10) hingga Minggu (5/10) di Desa Laburan, Kecamatan Kelumpang Hulu.
Ritual ini dikenal sebagai upacara adat bebalai, disorot sebagai manifestasi identitas murni dan jantung spiritualitas Desa Laburan.
Dalam acara itu juga dihadiri rombongan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotabaru yang pimpin Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda, H Minggu Basuki.
Adat Bawanang ini dikenal sakral dan bernuansa magis. Seluruh prosesi yang berlangsung selama empat hari tersebut dipimpin oleh seorang balian.
Balian, sebagai tokoh pimpinan adat memegang kendali penuh atas rangkaian kegiatan.
Tugas balian mencakup penyiapan sesaji, memimpin tarian khusus, pembacaan mantra kuno, hingga persembahan, memastikan semuanya dilaksanakan sesuai pakem tradisi Dayak.
Secara esensial, ritual ini adalah manifestasi syukur atas hasil panen yang telah diterima masyarakat.
Terkait ini, Kepala Desa Laburan, Syarifudin, mengungkapkan rasa syukur karena adat Bawanang terus lestari dan bisa dilaksanakan.
Ia secara terbuka menyampaikan apresiasi sekaligus permohonan kepada pemerintah.
"Kami merasa terhormat dengan kedatangan Asisten I. Ini bukan hanya bentuk dukungan finansial atau prosedural, tetapi ini adalah penguatan semangat kami," ungkap Syarifudin.
Syarifudin menekankan bahwa upacara ini adalah warisan leluhur yang sarat makna dan harus dijaga untuk generasi mendatang.
Selain itu ia juga menyampaikan permohonan spesifik. “Saya berharap, dukungan pemerintah bisa memastikan tradisi ini tidak lapuk dan terus menjadi pilar identitas,” pintanya.
Sementara, Asisten I Minggu Basuki, menegaskan komitmen Pemkab.
“Kita hadir di sini sebagai wujud bahwa kita juga ikut turut melestarikan upacara adat tersebut, dengan harapan, tahun-tahun berikutnya semakin meningkat," tutupnya.
Editor : Sutrisno