Meski demikian, kewaspadaan tetap dijaga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel menegaskan personel tetap disiagakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Plt Kepala BPBD Kalsel, Gusti Yanuar Noor Rifai, menyampaikan penghentian status siaga tidak berarti ancaman Karhutla telah hilang sepenuhnya.
Baca Juga: Tiga Pedagang Sisik Trenggiling Dihukum Tiga Tahun Penjara
"Personel tetap disiagakan meski status siaga darurat Karhutla dihentikan. Karena Karhutla dengan skala kecil bisa saja terjadi sewaktu-waktu," ujarnya, Jumat (3/10/2025).
Rifai mengungkapkan, intensitas hujan yang meningkat di sejumlah wilayah turut membantu meredam potensi kebakaran.
Lahan gambut yang sebelumnya rawan terbakar kini mulai terendam air, sehingga risiko kebakaran skala besar dapat diminimalisir.
Baca Juga: Polres Tabalong Bangun Dapur MBG untuk 3.210 Siswa
Kepala Dinsos Kalsel, M Farhanie, menyebutkan pihaknya terus menyiapkan tim Tagana, Pelopor Perdamaian, serta armada tangki dan rescue untuk mendukung penanganan cepat di lapangan.
"Potensi Karhutla tidak bisa diabaikan, makanya kita tetap siaga penuh," tegasnya.
Keputusan penghentian status siaga darurat diambil setelah evaluasi menyeluruh dalam rapat koordinasi lintas instansi.
Baca Juga: Kursi Sekda Tapin Kosong, Bupati Yamani Tunjuk Pelaksana Harian
Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Muhammad Syaripuddin, menjelaskan peralihan musim dari kemarau ke hujan menjadi salah satu dasar utama.
"Status Siaga Darurat Karhutla resmi dihentikan sejak berakhirnya pada 30 September tadi," ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah mengonfirmasi Kalsel telah memasuki musim hujan, dengan frekuensi hujan cukup tinggi di berbagai kabupaten/kota.
Baca Juga: Mantan Sekda Balangan Ajukan Praperadilan Lawan Status Tersangka Korupsi
Selama masa siaga darurat yang dimulai sejak 4 Agustus, pemerintah pusat turut mengerahkan empat helikopter ke Kalsel.
Dua untuk patroli dan dua lainnya untuk water bombing guna mengantisipasi meluasnya titik api. (*)
Editor : M. Ramli Arisno