Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banyak Sawah di Kabupaten Banjar Terbengkalai Akibat Banjir, Kini Jadi Lahan Tidur

M Fadlan Zakiri • Senin, 29 September 2025 | 13:04 WIB
RUSAK: Kondisi salah satu sawah di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura usai terendam banjir pada tahun 2020 lalu.
RUSAK: Kondisi salah satu sawah di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura usai terendam banjir pada tahun 2020 lalu.

Sawah yang dulu hijau, kini jadi lahan tidur. Nasib ketahanan pangan Banjar kini dipertaruhkan.

            ******
MARTAPURA - Sektor pertanian di Kabupaten Banjar saat ini tengah menghadapi ancaman serius. Puluhan hektare sawah di sejumlah wilayah yang dulunya menjadi sumber penghidupan petani, kini terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar.

Kondisi ini terjadi akibat kombinasi faktor bencana alam, terutama banjir, hingga maraknya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan usaha.

Di Desa Keramat Baru dari Kecamatan Martapura Timur, serta Desa Tungkaran dari Kecamatan Martapura misalnya, hamparan sawah yang dulu membentang hijau kini berubah wajah ditumbuhi rumput liar. Lahan yang pernah produktif itu kini tidak lagi digarap warga. Salah satunya terlihat di kawasan rawa di tepi Jalan Makam, Desa Tungkaran.

“Kalau tidak salah, tahun 2001 sampai 2005, masih banyak petani yang menanam padi di sini. Tapi sekarang sudah banyak yang meninggalkan,” tutur Muhammad, petani setempat, Jumat (26/9) siang

Muhammad menjelaskan penyebab utama para petani berhenti menggarap lahan karena seringnya gagal panen akibat banjir yang datang saat masa tanam. “Baru selesai tanam, datang banjir. Ujung-ujungnya gagal panen,” keluhnya.

Kondisi tersebut menjadi sorotan serius pengurus Sarekat Pertanian Indonesia (SPI) Kalsel. Ketua DPW SPI Kalsel, Dwi Putra Kurniawan menyayangkan minimnya langkah konkret pemerintah daerah dalam mengantisipasi persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

“Sesuai Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, termasuk jalan tani, itu tanggung jawab pemerintah. Kalau petani terhambat karena banjir, seharusnya pemerintah hadir memberikan solusi,” ujarnya.

Menurut Dwi, kondisi lahan produktif yang dibiarkan terbengkalai menunjukkan lemahnya perhatian Dinas Pertanian. Padahal, pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah gencar menjalankan program ketahanan pangan. Bahkan melibatkan TNI-Polri untuk mempercepat produksi pangan nasional.

“Negara sudah serius dengan dukungan anggaran besar. Kalau Dinas Pertanian di daerah justru lepas tangan, ini ironis,” ujarnya.

Dwi juga menyoroti lemahnya peran penyuluh pertanian di lapangan, yang seharusnya mampu mengidentifikasi persoalan dan menyampaikan rekomendasi ke dinas. “Kalau abai, patut dipertanyakan komitmennya sebagai ASN,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa puluhan hektare sawah yang kini berubah menjadi lahan tidur mestinya dijadikan alarm bagi ketahanan pangan Kabupaten Banjar. Jika tidak segera ditangani dengan strategi adaptif dan kebijakan berpihak pada petani, daerah yang dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi Kalimantan Selatan ini bisa kehilangan identitasnya sebagai wilayah penghasil beras. Karena itulah, SPI menekankan bahwa keberhasilan program nasional tidak cukup hanya dengan instruksi pusat.

“Komitmen pemerintah daerah menjadi kunci agar lahan-lahan lama yang dulu produktif bisa kembali menghasilkan. Dan ancaman krisis pangan bisa terhindarkan,” lugasnya

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita tak menampik adanya persoalan tersebut. Menurutnya, kawasan Martapura Timur, Martapura Barat, dan sebagian Kecamatan Martapura memang tergolong daerah rawan bencana banjir, yang berdampak langsung pada produktivitas pertanian.

“Faktor alam memang menjadi tantangan utama. Tapi kami tetap berupaya membantu petani melalui program seperti optimalisasi lahan,” ujarnya.

Warsita menjelaskan, optimalisasi lahan mencakup normalisasi saluran irigasi, hingga peninggian tanggul agar banjir tak lagi merendam lahan.

Selain itu, pemerintah juga menawarkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk melindungi petani dari kerugian akibat gagal panen.

“Kami terus mendorong agar petani tidak kehilangan semangat. Program dari pemerintah bisa dimanfaatkan untuk tetap menanam meski sering terdampak banjir,” jelasnya.

Puluhan Hektare Sawah di Banjar Jadi Lahan Tidur

Kondisi Sawah :
- Sawah di Martapura Timur & Martapura banyak yang terbengkalai.
- Kini ditumbuhi semak & rumput liar.

Penyebab Utama :
- Sering gagal panen akibat banjir.
- Alih fungsi lahan jadi permukiman & usaha.

Sorotan SPI Kalsel :
- Pemerintah daerah dinilai minim solusi.
- Penyediaan sarana-prasarana pertanian tanggung jawab pemerintah (UU 41/2009).
- Peran penyuluh pertanian dianggap lemah.

Dampak :
- Puluhan hektare sawah berubah jadi lahan tidur.
- Ancaman terhadap ketahanan pangan Kabupaten Banjar.

Tanggapan Dinas Pertanian Banjar :
- Akui tantangan banjir di Martapura Timur, Barat & sebagian Martapura.
- Upaya: normalisasi irigasi, peninggian tanggul, optimalisasi lahan.
- Program perlindungan: Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Banjir #sawah #Banjar #lahan