RANTAU – Kabar menggembirakan datang dari Kabupaten Tapin. Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat periode 2025, tingkat kemiskinan di Tapin turun signifikan menjadi 2,91 persen.
Angka ini lebih rendah dibanding 2024 yang masih berada di 3,33 persen.
Jika dirinci, jumlah penduduk miskin pada 2024 tercatat sebanyak 6.550 jiwa. Setahun berselang, angka itu menurun menjadi 5.770 jiwa. Capaian ini menempatkan Tapin di peringkat kedua terbaik se-Kalimantan Selatan dalam penurunan angka kemiskinan.
Kepala Bappelitbang Tapin, Meidy Harris Prayoga, menjelaskan bahwa penurunan ini tidak terlepas dari strategi program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan pemerintah daerah.
“Ada tiga fokus utama, yakni mengurangi beban pengeluaran masyarakat, mengurangi kantong-kantong kemiskinan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat,” bebernya, Kamis (18/9/2025).
Program tersebut meliputi bantuan beasiswa formal dan nonformal, jaminan kesehatan nasional untuk seluruh warga Tapin, bantuan sosial, rehab rumah tidak layak huni, pembangunan sanitasi dan air bersih.
"Hingga bantuan bibit pertanian, perikanan, serta subsidi kredit UMKM dengan bunga nol persen," jelasnya.
Bupati Tapin, H Yamani, menegaskan bahwa capaian ini patut disyukuri, namun jangan membuat lengah.
“Berdasarkan survei, kita sudah masuk 10 besar daerah dengan kemiskinan terendah di Indonesia. Harapan saya, ke depan bukan hanya diturunkan, tapi kemiskinan harus bisa dihapuskan,” tegasnya.
Apresiasi juga datang dari legislatif. Yuspianor, anggota DPRD Tapin dari Fraksi PDIP, menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut.
“Tingkat kemiskinan 2,91 persen menempatkan Tapin di posisi istimewa. Ini bukti kebijakan pemerintah daerah bersama dukungan masyarakat berjalan di jalur yang tepat,” ujarnya.
Yuspianor menambahkan, DPRD akan terus mendorong kebijakan dan anggaran pro-rakyat.
“Fokus kita ke depan memperkuat ekonomi lokal, menjaga kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, serta mengantisipasi faktor eksternal yang bisa memicu kenaikan angka kemiskinan, seperti fluktuasi harga komoditas atau bencana alam,” katanya.
Editor : Arif Subekti