BANJARMASIN – Kembali berstatus sebagai bandara internasional, Syamsudin Noor akan disolek. Khususnya di terminal kedatangan. Tahun ini, Pemprov Kalsel melalui Dinas PUPR Kalsel memastikan perbaikan dan rehabilitasi interior dilaksanakan.
Nuansa khas daerah bakal dihadirkan di terminal kedatangan. Mengusung konsep Geopark Meratus dengan nilai kearifan lokal dan budaya Kalsel. “Ini sebagai dukungan Pemprov dalam mendukung aktivitas penerbangan internasional yang kembali aktif,” terang Plt Kepala Dinas PUPR Kalsel, M Yasin Toyib.
Menurutnya, sangat penting mengusung tema kearifan lokal dan budaya yang dimiliki Kalsel ini. Salah satunya sebagai bagian dari promosi daerah. Dengan tujuan memberitahukan kepada orang luar Kalsel, khususnya wisatawan luar negeri untuk semakin tertarik datang ke Kalsel.
Tak hanya mempercantik visual terminal, interior terminal kedatangan tak luput ditampilkan unsur nuansa khas daerah. Seperti tarian adat Banjar dan Dayak, sebagai bentuk akulturasi budaya khas Kalsel.
Geopark Meratus yang telah masuk dalam jaringan UNESCO akan menjadi tema sentral. “Nanti ditampilkan elemen budaya melalui seni dan patung. Agar wisatawan langsung merasakan nuansa khas daerah saat pertama kali menginjakkan kaki di bandara,” cetusnya.
Ia menerangkan proyek perbaikan ini telah memasuki tahap kontrak, dan segera dilaksanakan dalam waktu dekat setelah koordinasi dengan pihak Angkasa Pura selaku pengelola bandara. Perbaikan ditargetkan rampung dalam waktu 120 hari kerja. “Selesai tahun ini, dan sudah bisa dinikmati,” tegasnya.
Yasin menambahkan, dengan visual yang kuat, unik, dan berakar pada budaya lokal, maka akan memberi kesan mendalam bagi wisatawan yang datang. “Yang utama penataan ini tak hanya memperindah ruang publik, namun juga mampu mendorong peningkatan jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” ujarnya.
Seperti diketahui, penerbangan internasional perdana di Bandara Udara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin dijadwalkan mulai 20 Oktober 2025 dengan rute Kuala Lumpur-Banjarmasin. Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M Fitri Hernadi mengatakan untuk mendukung rute internasional ini diperlukan kolaborasi yang konkret lintas sektor.
Terutama untuk mendongkrak minat kunjungan wisatawan dari luar negeri melalui pintu masuk Kuala Lumpur. “Jika kita ingin penerbangan ini tidak hanya sebatas seremoni, maka perlu aksi nyata. Kita harus memastikan bahwa semua sektor pariwisata, UMKM, travel, budaya, dan pengusaha bergerak bersama,” tekannya.
Fitri menjelaskan, tingkat okupansi penerbangan (load factor) internasional ini minimal harus mencapai 80 persen selama bulan pertama. Capaian itu menjadi parameter penting agar maskapai lain tertarik membuka rute internasional serupa ke Banjarmasin. Sebaliknya, jika target tidak tercapai, ada risiko rencana ekspansi rute akan dibatalkan atau ditunda. “Ini yang harus dicapai,” ingatnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief