MARTAPURA – Kabupaten Banjar serius menjadikan Kecamatan Karang Intan sebagai sentra pengembangan ikan papuyu (betok).
Tahun ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Banjar memanfaatkan lahan seluas 4,93 hektare untuk budi daya.
Tidak berhenti di situ, lahan tambahan seluas 14,73 hektare juga disiapkan untuk memperluas kawasan pengembangan.
Kepala Bidang Perikanan Budi daya DKPP Banjar, Bandi Chairullah menyebut langkah ini diyakini dapat meningkatkan produksi sekaligus mengokohkan Karang Intan sebagai Kampung Perikanan Budi daya skala nasional.
“Potensi di Karang Intan sangat besar, apalagi sudah didukung SK Menteri Kelautan dan Perikanan serta SK Bupati Banjar,” ujarnya, Kamis (4/9).
Harga papuyu yang stabil di kisaran Rp40 ribu–Rp100 ribu per kilogram menjadi alasan kuat pengembangannya.
Baca Juga: Lepas Ribuan Bibit Ikan Papuyu dan Haruan di Perairan Paminggir
Komoditas ini kini ditetapkan sebagai unggulan daerah dan bagian dari arah kebijakan nasional di sektor perikanan.
Sejak 2024, DKPP Banjar telah menggerakkan 10 kelompok pembudi daya: tujuh di Karang Intan dan tiga di Martapura Barat.
Tahun lalu, produksi tercatat 7,3 ton.
Baca Juga: Budidaya Sistem Bioflok, Warga Landasan Ulin Barat Berhasil Panen 150 Kg Ikan Papuyu
Panen raya September 2025 diproyeksikan meningkat signifikan.
Dukungan pemerintah meliputi penyediaan benih, pakan, pelatihan, hingga pemantauan rutin.
Tantangan terbesar adalah masih rendahnya kapasitas sumber daya manusia pembudi daya.
Baca Juga: Kok Bisa Pemancing ini Telan Papuyu Hidup-Hidup? Begini Kronologi Lengkapnya...
“Solusinya, kami membentuk Forum Komunikasi Perikanan dan membuka sekolah lapang budi daya,” jelas Bandi.
Ia optimistis, selain memperkuat ekonomi lokal, keberadaan Kampung Papuyu juga berpotensi menjadi destinasi wisata berbasis perikanan.
Editor : Eddy Hardiyanto