RANTAU – Senyum itu akhirnya muncul juga.
Dari wajah para petani di Desa Hiyung, Tapin Tengah.
Cabai khas Hiyung yang terkenal pedas itu mulai panen.
Harganya? Rp40 ribu per kilo.
“Alhamdulillah, harga bagus. Petani senang,” kata Junaidi, petani setempat.
Di Tapin ada 224 hektare lahan cabai Hiyung.
Separuhnya ada di Desa Hiyung.
Dari lahan itu, baru 24 persen yang panen.
Puncaknya diperkirakan Oktober nanti.
Tapi, senyum itu belum sempurna.
Karena di balik harga bagus, ada harapan yang belum terkabul dari pemerintah.
Petani minta harga pupuk stabil.
Obat pertanian jangan melambung.
“Kalau harga cabai jatuh di bawah Rp25 ribu, berat buat petani,” keluh Junaidi.
Bukan hanya soal pupuk.
Mereka juga butuh disediakan sarana.
Mobil pick up, misalnya.
Agar hasil panen bisa cepat sampai pasar.
Dan satu lagi, infrastruktur pertanian.
Surjan—bidingan untuk cabai—banyak yang rendah.
Air pun lambat surut.
Akibatnya, musim tanam jadi molor.
Cabai Hiyung sendiri sudah lama jadi ikon Tapin.
Pedasnya keterlaluan.
Bahkan sering disebut salah satu cabai terpedas di Indonesia.
Tidak heran, tiap musim panennya selalu jadi perhatian.
Editor : Eddy Hardiyanto