Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ritual Selamatan Leut Suku Bajau Samah di Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Minggu, 24 Agustus 2025 | 19:04 WIB

RITUAL ADAT: Saat berlangsung ritual adat Selamatan Leut suku Bajau Samah Kotabaru. Foto: Disparpora Kotabaru.
RITUAL ADAT: Saat berlangsung ritual adat Selamatan Leut suku Bajau Samah Kotabaru. Foto: Disparpora Kotabaru.

KOTABARU – Puluhan perahu jenis balapan milik Suku Bajau Samah berbondong-bondong menuju tengah laut.

Mereka melakukan ritual Selamatan Leut khas Suku Bajau Samah di Kotabaru, Minggu (24/8).

Tema Selamatan Leut ini “Magic From The Sea". Artinya keajaiban dari laut yang merupakan rangkaian Festival Budaya SaIjaan yang masuk Kharisma Event Nasional oleh Kementerian Pariwisata RI.

Selamatan Leut kali ini dihadiri oleh Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Fadjar Hutomo, serta Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, dan Forkopimda lainnya.

Kehadiran pejabat pusat dan daerah menunjukkan dukungan penuh pada pelestarian budaya ini.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin, Ritual ini merupakan ungkapan syukur suku yang dikenal sebagai pengembara laut atas limpahan rezeki, kesehatan, dan keselamatan yang diberikan Tuhan di lautan.

Prosennya, upacara adat ini dipimpin oleh Hamdani, seorang Sandro (pemuka adat) dari Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut utara.

Persiapan Selamatan Leut ini tak main-main, memakan waktu hampir empat hari.

Dimulai sejak tanggal Kamis (21/8), diawali dengan memandikan pusaka gendang dan pembuatan Kelengkea berupa anyaman daun nipah persegi empat.

Keesokan harinya Jumat (22/8), kue 7 rupa mulai dibuat, diiringi alunan musik gendang gamelan khas Suku Bajau Samah.

Musik ini terus dimainkan sepanjang hari, hanya diistirahatkan saat waktu salat tiba.

Hari ketiga Sabtu (23/8), jumlah kue bertambah drastis menjadi 41 macam, dibuat sembari terus diiringi musik yang sama.

Malam harinya, sajian istimewa itu dibawa ke darat sebagai bentuk rasa syukur kepada "penjaga darat" karena telah menghasilkan kayu yang digunakan untuk membangun rumah.

Ini juga diiringi empat alat musik gendang yang dimainkan sembilan orang, sesajian lalu dibawa kembali ke darat untuk didoakan bersama sebelum disantap.

Pada hari-H, Minggu pagi, sesaji dilengkapi dengan lakatan 7 warna dan kue rampa yang wajib ada, kemudian dibawa ke laut. Tepat pukul 09.00 WITA, rombongan bertolak menuju Gusung Balienteang.

Iring-iringan ini bukan sekadar kapal nelayan biasa. Upacara adat Suku Bajau Samah ini dikawal penuh oleh dua kapal dari Lanal, Satpolairud, Dinas Perhubungan, BPBD, Basarnas, hingga puluhan kapal nelayan. Perjalanan memakan waktu 30 menit.

Setibanya di tengah laut, ritual paling sakral dimulai. Pusat ritual adalah sebuah rumah kecil mengapung yang sudah disiapkan, dikelilingi puluhan perahu yang memadati lautan.

Sandro Hamdani memimpin pembacaan ritual adat.

Sandro menancapkan Bambu adat ke laut dangkal, menurut kepercayaan suku ini, air yang di sekitar yang ditancapkan bambu tadi berubah menjadi tawar sejenak.

Kemudian, masyarakat Suku Bajau terjun ke laut, ada yang meminum air ada juga untuk dibawa pulang.

Konon air sekitar tadi membawa keberkahan baik untuk obat atau keselamatan.

Begitu ritual selesai, iringan kapal menuju Siring Laut dan drama pun terjadi.

Seluruh prosesi ritual berlangsung hikmat, meski sempat diwarnai kejadian tak terduga. Di tengah keramaian, di Siring Laut seorang warga Suku Bajau, Samah kesurupan. Untungnya, kedua orang itu langsung bisa ditangani oleh Sandro adat.

Sandro Hamdani kepada Radar Banjarmasin setelah acara ini mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan pemerintah daerah dan kementerian.

“Kami berharap, kedepannya Dinas Pariwisata maupun Kementerian dapat selalu berkolaborasi dan mengangkat suku kami sebagai Event budaya nasional,” senangnya.

Sebagai pemuka adat, ia memohon agar kedepannya selain Kalimantan Selatan semua Suku Bajau yang ada di Nusantara juga diundang untuk hadir dalam ritual tahunan di Kotabaru.

Editor : Arif Subekti
#Kotabaru #Budaya #Suku Bajau #selamatkan #ritual #festival #laut