Kepala BPS Tabalong Sigit Purnomo menjelaskan lonjakan harga bawang merah menjelang Maulid disebabkan tingginya permintaan yang mengurangi stok pasar. Fenomena ini telah menjadi pola tahunan yang sulit dihindari tanpa intervensi strategis.
"Itu sudah hukum alam," kata Sigit, Jumat (22/8).
BPS menganjurkan Pemkab Tabalong memproduksi bawang merah sendiri untuk mengendalikan inflasi. Investasi bidang ketahanan pangan dinilai sangat tepat dilakukan mengingat kebutuhan bawang merah Tabalong hanya 50 ton per tahun.
Bupati Tabalong Muhammad Noor Rifani menegaskan akan memberikan subsidi bibit bawang merah untuk mencapai swasembada. Program ini tidak hanya merespons inflasi Maulid, tetapi memenuhi kebutuhan bulanan daerah.
"Jika kebutuhannya hanya 50 ton, kita subsidi bibitnya ke petani agar kita swasembada bawang merah," kata Noor Rifani.
Baca Juga: BKPSDM HSS Bagikan Undangan Pelantikan 791 PPPK Tahap Pertama Selasa Depan
Dengan produksi 11-15 ton per hektare, Tabalong memerlukan lima hektare lahan untuk memenuhi kebutuhan tahunan. Pemkab akan memberikan subsidi untuk dua atau tiga hektare agar target tercapai optimal.
Sigit menekankan keterlibatan Perumda milik Pemkab dalam mengendalikan harga pasar sangat strategis. Swasembada bawang merah dapat mengontrol fluktuasi harga dan menjaga stabilitas ekonomi lokal.
"Pemkab Tabalong harus menarget produksi. Insya Allah bisa menekan inflasi," tegas Sigit.
Jika produksi berlebihan, Tabalong dapat menyuplai ke daerah tetangga untuk memperluas jangkauan ekonomi regional. Kebijakan subsidi pertanian bawang merah dinilai sangat tepat untuk mewujudkan ketahanan pangan lokal.
Editor : M. Ramli Arisno