Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pastikan Hujan Deras di Kalsel Hasil Modifikasi Cuaca, BMKG: Kemarau Masih Panjang dan Bisa Picu Cuaca Ekstrem

M Fadlan Zakiri • Kamis, 21 Agustus 2025 | 20:52 WIB

MENERJANG HUJAN : Hujan deras mengguyur Banjarbaru dan sekitarnya adalah hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
MENERJANG HUJAN : Hujan deras mengguyur Banjarbaru dan sekitarnya adalah hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BANJARBARU - Hujan deras yang mengguyur Banjarbaru, Banjarmasin, dan sejumlah wilayah lain di Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam beberapa hari terakhir sempat membuat warga terkecoh. 

Banyak yang mengira musim kemarau sudah selesai lebih cepat.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalsel memastikan bahwa kemarau masih akan berlangsung hingga Oktober 2025 mendatang. 

Hujan yang turun belakangan ini bukan tanda musim berganti, melainkan hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pemerintah.

“OMC di Kalsel dilaksanakan selama 10 hari, dari 13 sampai 22 Agustus 2025,” jelas Forecaster Iklim BMKG Kalsel, Erlina Natasya Kurniasari, Kamis (21/8) sore.

Menurutnya, hujan buatan ini bertujuan untuk menjaga lahan gambut tetap basah agar tidak mudah terbakar. 

“Fungsi OMC adalah langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” ujarnya.

Meski hujan buatan berhasil mengguyur beberapa daerah, risiko kebakaran hutan dan lahan di Kalsel masih tinggi. BMKG pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu api.

“Kami ingatkan agar masyarakat tidak sembarangan membakar lahan atau membuang puntung rokok. Sekali api muncul di lahan kering, sulit dikendalikan,” tutup Erlina.

Cuaca Ekstrem Mengintai

Kondisi ini juga dikuatkan oleh Analis Iklim Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I BMKG Kalsel, Muhammad Arif Rahman.

Ia menegaskan bahwa cuaca saat ini memang membingungkan banyak orang. Namun secara ilmiah, Kalsel masih berada dalam periode kemarau.

“Wilayah Kalsel bagian barat sudah masuk musim kemarau sejak Juni 2025. Sedangkan bagian timur lebih lambat karena dipengaruhi uap air dari angin monsun Australia yang tertahan oleh Pegunungan Meratus,” jelasnya.

Pegunungan Meratus, yang membentang dari selatan ke utara, membagi Kalsel dalam dua pola iklim berbeda. 

Wilayah timur seperti Martapura, cenderung lebih basah karena angin yang melambat di lereng gunung menumpuk uap air dan berubah jadi hujan. 

Sebaliknya, bagian barat cenderung kering karena kehabisan suplai uap air.

Arif juga menambahkan, puncak kemarau di Kalsel diprediksi terjadi pada Agustus–September. 

Kondisi panas terik yang beberapa saat dirasakan belakangan ini adalah gejala khas musim kemarau.

Namun, terbentuknya Siklon Tropis CO-MAY di Laut Filipina ikut menarik uap air di atmosfer Kalimantan. 

Ditambah adanya anomali positif Suhu Muka Laut (SST) di perairan Indonesia, terutama selatan Kalsel, membuat pembentukan awan hujan tetap terjadi, meskipun bersifat lokal dan sporadis.

“Makanya meskipun kemarau, kita tetap bisa dapat hujan. Intensitasnya ringan hingga sedang, sifatnya lokal, dan tidak kontinu,” ungkapnya.

Karena itulah, kata Arif BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi fenomena cuaca yang semakin tidak menentu. 

Kombinasi panas ekstrem, uap air melimpah, dan pertemuan angin di ketinggian berbeda bisa memicu badai lokal, bahkan fenomena angin puting beliung.

“Cuaca tidak bisa hanya dipahami dari kalender. Kita perlu lihat parameter lebih detail. Yang penting masyarakat jangan panik, tapi tetap siaga,” tegas Arif.

Editor : Sutrisno
#kemarau #bmkg #cuaca