KOTABARU — Terik sengatan matahari tak menyurutkan semangat ribuan pasang mata yang sudah menunggu di pinggir jalan. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semuanya berjejal, tak ingin melewatkan momen Pawai 18 Agustus di pusat Kota Kotabaru.
Acara ini dimulai pagi sekira jam 08.00 Wita sampai selesai.
Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, jalanan berubah menjadi panggung raksasa, penuh dengan warna, tawa, dan semangat kemerdekaan.
Terlihat, pawai ini bukan sekadar parade. Ia adalah perayaan, sebuah potret hidup dari kreativitas dan patriotisme warga.
Rombongan pawai yang jumlahnya puluhan group. Mereka mulai dari siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga berbagai instansi, berlomba memamerkan ide terbaik mereka.
Menariknya, mereka ada yang berbusana ala pejuang kemerdekaan, lengkap dengan bambu runcing dan wajah yang dilumuri arang. Ada juga yang tampil modern, bahkan menampilkan era 80-an dan 90-an yang penuh nostalgia.
Yang paling membuat penonton terpukau adalah pertunjukan teater mini di awal pawai. Di tengah jalan, para peserta mementaskan drama heroik, mengisahkan perjuangan para pahlawan melawan penjajah Belanda.
Adegan-adegan yang epik ini sukses memantik sorak sorai penonton dan membius para pejabat yang hadir, termasuk Wakil Bupati Kotabaru Syairi Mukhlis dan Sekda H Eka Syafrudin.
Dzini, seorang warga Banjarmasin yang kebetulan berada di Kotabaru, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Saya baru pertama kali lihat, sangat menghibur sekali. Mereka merayakan arti kemerdekaan dengan ceria," ujarnya.
Ia salut dengan totalitas para peserta yang rela berkorban waktu dan biaya demi mempersembahkan pertunjukan terbaik.
Komentar yang sama juga dirasakan oleh Abdurahman, warga Tanah Bumbu. "Kotabaru memang luar biasa kalau ada pawai. Selalu meriah dan ditunggu-tunggu," pujinya.
Editor : Arif Subekti