Bakir, petani bawang merah itu mengaku tidak menemukan kendala, meski menanam baru pertama kalinya.
"Di musim kemarau hasilnya lebih bagus dari pada musim hujan, karena kalau musim hujan daunnya mengulir (kering)," katanya, Senin (18/8/2025).
Ia mengakui, menjaga kecukupan air untuk mengairi bawang merah harus menjadi kunci keberhasilannya.
Padahal, Bakir baru pertama kali menanam bawang merah atas permintaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel, melalui pelatihan dan bantuan bibit yang diberikan kepadanya.
Sebelumnya, dia hanya menanam sayur-mayur. Tidak pernah mencoba bawang merah.
Ternyata, meski berawal dari tanam biji varietas import Belanda yang dikemas lagi di Indonesia, bermerk Maserati, hasilnya cukup membuatnya puas. "Sangat mudah. Usianya tiga bulan panen," ujarnya.
Bakir menanam satu kilogram atau dua kemasan butiran bibit bawang merah. Hasilnya, bawang yang tumbuh cukup besar.
Karena baru pertama kalinya, Bakir menanam di lahan seluas dua borong. Namun, itu akan dijadikan umbi bibit bawang merah, untuk perluasan lahan tanam.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Perikanan Tanaman Pangan Hortikultura (DKPTPH) Tabalong, Rahman Effansyah memberi apresiasi.
Pasalnya, bawang merah sebelumnya hanya bisa ditanam di daerah dataran tinggi, ternyata dataran rendah juga bisa.
"Dengan biji lagi. Se Kalsel, hanya di sini yang berhasil menanam biji," tegasnya.
Ada sejumlah kelebihan menanam bawang merah dari biji. Yaitu, tidak susah dalam pengiriman. "Kalau bibitnya biji tinggal nenteng. Tapi kalau dari umbi, satu hektarnya satu ton," jelasnya.
Produktivitasnya juga lebih baik mencapai 10 - 15 ton. Sementara dari umbi hanya 8 - 10 ton perhektar.
"Lebih banyak anakkannya, dan bisa untuk bibit kembali sampai lima kali turunan. Asalkan dikeringkan dengan baik," sebutnya.
Editor : Sutrisno