AMUNTAI – Berdiri kokoh di tengah denyut kehidupan Amuntai, Jembatan Merah Putih Paliwara bukan sekadar infrastruktur penghubung.
Ia adalah simbol yang menyimpan kisah heroik perjuangan masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU) dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa revolusi fisik.
Pemerhati sejarah lokal, Ahdiat Gazali Rahman, mengungkapkan bahwa periode 1947–1949 menjadi babak paling panas dalam sejarah perlawanan masyarakat Amuntai pasca kemerdekaan 1945.
“Masa itu dikenal sebagai era revolusi fisik, di mana rakyat berjuang melalui pertempuran bersenjata dan diplomasi untuk mengusir Belanda yang datang kembali bersama sekutu,” ujarnya, Jumat (15/6/2025).
Menurut catatan sejarah, salah satu titik penting perjuangan ada di Desa Haur Gading, markas tokoh pejuang Haji Untung.
Di sana, pernah digelar rapat rahasia antara kepala-kepala markas BN/8 Kediri, BN/5-U Danau Terate, dan BN/5-S Kuripan Jaya yang berpusat di Paliwara.
Rapat itu membahas strategi perlawanan terhadap militer Belanda.
Pertempuran demi pertempuran pun terjadi. Dalam satu serangan, Belanda menembak mati lima gerilyawan asal Haur Gading—Tabri, Darham, Ampam, Campa, dan Burhan. Kelimanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tabur, Kecamatan Amuntai Utara.
Markas besar BN/5-S di Paliwara sempat dibakar habis oleh Belanda, memaksa pasukan berpindah ke hutan yang kini menjadi wilayah Desa Kayaka dan Desa Mamar. Di sana, mereka membangun bengkel senjata untuk membuat senapan dan granat rakitan, hingga akhirnya Belanda dan sekutu mundur dari bumi pertiwi.
Perjuangan rakyat HSU juga tercatat di Alabio (kini Kecamatan Sungai Pandan) melalui pasukan berani mati pimpinan Lettu Anumerta Hasbullah Yasin.
Kyai Hasbullah gugur sebagai syuhada pada 27 Oktober 1945 dan dimakamkan di Sungai Pandan Tengah—kini menjadi cagar budaya nasional. Atas jasanya, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Gerilya serta pangkat Letnan Satu Anumerta.
Makna Merah yang Abadi
Warna merah pada Jembatan Paliwara tidak hanya mempercantik wajah kota.
“Merah adalah simbol darah, keberanian, dan pengorbanan para pejuang yang bertarung di wilayah ini,” jelas Ahdiat.
Selain Paliwara, jejak perjuangan juga tersebar di Desa Danau Terate, Lok Bangkai (Banjang), Desa Pakacangan, Guntung (Amuntai Utara), serta Desa Mamar dan Kayaka (Amuntai Selatan). Semua menjadi saksi bisu kegigihan rakyat HSU melawan penjajah.
Dengan jejak sejarah yang kuat, Jembatan Merah Paliwara kini bukan hanya jalur penghubung, melainkan pengingat abadi bahwa kemerdekaan tidak datang tanpa perjuangan.
Editor : Arif Subekti