Ketua Kelompok Tani Kadaman Sari Andin menyebut musim kemarau sangat mendukung budidaya melon dibanding musim hujan yang rentan penyakit tanaman.
"Beda sama musim hujan, bisa banyak penyakitnya," kata Andin saat diwawancarai.
Baca Juga: HSS Tetapkan Status Siaga Karhutla 4 Bulan, Posko Kabupaten hingga Desa Aktif Patroli
Melon hasil panen akan dijual kepada pengepul lokal Tabalong dengan harga Rp7.000 per kilogram. Kelompok tani beranggotakan lebih dari 20 orang ini tidak hanya budidaya melon, tetapi juga tomat dan sayuran lainnya.
Andin mengakui membutuhkan perhatian pemerintah dan perusahaan sekitar karena lokasi kebun berada di ring satu pertambangan. Kelompok tani mengharapkan kemitraan dengan perusahaan untuk pengembangan hortikultura.
"Paling tidak ada kemitraan dari perusahaan," ujarnya.
Baca Juga: Dari Dapur Rumah ke Etalase Bandara, Ini Kisah Sukses UMKM Bersama Rumah BUMN Binaan BRI
Meski ada perusahaan yang membantu membuka akses jalan ke kebun, sarana pendukung pertanian lain masih kurang memadai.
"Kami butuh embung untuk pengairan. Pipanisasi juga perlu," imbuhnya.
Andin menjelaskan semua jenis tanaman membutuhkan air, terutama saat musim kemarau. Tanaman tomat mengalami keriting daun akibat kekurangan air.
Baca Juga: Beras dan Minyak Goreng Dijual Murah, Warga Barabai Antusias Belanja di Lokasi Ini
"Tanaman tomat kami kalau musim kemarau kaya ini keriting daunnya," cetusnya.
Selain masalah pengairan, serangan hama monyet juga sering menyerang tanaman hortikultura mereka, namun tidak pada melon dan tomat.
Editor : M. Ramli Arisno