Program ambisius ini menyasar 47 SD, 21 PAUD, dan 24 SMP dengan prioritas utama sekolah-sekolah di zona pesisir dan rawa, terutama Kecamatan Aluh-Aluh yang kondisi bangunannya memprihatinkan.
"Banyak bangunan yang berdiri sejak tahun 70-an dan 80-an. Kondisinya sudah tidak sesuai standar dan harus diperkuat sesuai dengan struktur tanah setempat," ungkap Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Banjar, Mahriansyah, Kamis (31/7).
Baca Juga: Mahasiswa Uniska Tewas Ditabrak Pemabuk, Penabrak Diduga Pulang dari THM
Tantangan geografis menjadi faktor penentu jenis konstruksi. Untuk wilayah bertanah keras, bangunan dapat dibuat permanen dengan beton. Namun untuk daerah rawa, sebagian besar hanya memungkinkan konstruksi semi permanen karena keterbatasan akses dan daya dukung tanah.
Dari 92 sekolah target, sekitar separuhnya berada di zona rawa dengan kondisi tanah yang menantang. "Mungkin hanya 40 sekolah yang memungkinkan dibangun semi permanen karena berada di tanah keras. Sisanya menyesuaikan hasil survei," jelas Mahriansyah.
Perencanaan proyek menggabungkan metode bottom-up dan top-down, memadukan usulan masyarakat dengan data Dapodik dan survei lapangan. Proses pembangunan dilakukan bertahap sesuai ketersediaan anggaran dan tenaga teknis.
"Semua proses rehabilitasi sekolah saat ini sudah mulai berjalan aman tanpa kendala berarti. Kami optimis bisa selesai tepat waktu," tegas Mahriansyah.
SDN 1 Bincau menjadi salah satu sekolah yang sudah memulai proses rehabilitasi. Kepala Sekolah Fadilah mengaku sangat bersyukur bangunan rusak berat tersebut akhirnya mendapat perhatian serius.
"Kondisinya dulu sangat membahayakan siswa. Alhamdulillah sekarang diperbaiki total," kata Fadilah.
Baca Juga: Kalsel Terus Tambah Medali di FORNAS VIII NTB
Selama proses pembangunan, kegiatan belajar mengajar dialihkan ke gedung madrasah di Binjai. "Pihak madrasah sangat terbuka dan bersedia menampung. Ruangannya cukup dan kami gunakan bergiliran," jelasnya.
Dukungan masyarakat juga sangat positif terhadap program ini. "Bangunan baru desainnya bagus, dan setelah digeser ke tepi batas tanah, halaman sekolah kini lebih luas dan nyaman untuk anak-anak," pungkas Fadilah.
Editor : M. Ramli Arisno