BARABAI – Warga Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mengeluhkan kondisi jalan yang rusak.
Padahal baru diperbaiki pada tahun 2022 lalu.
Kerusakan yang terlihat di sisi badan jalan raya itu kini membahayakan pengendara, terutama pengendara roda dua.
Salah satu pengendara roda dua, Rudi (38), mengatakan bahwa kerusakan jalan tersebut menunjukkan buruknya perencanaan dan pengawasan dalam pengerjaan proyek jalan.
“Kondisi rusak seperti ini sudah terjadi sejak dua tahun. Sepertinya dulu dikerjakan asal-asalan, tidak tahan lama,” keluhnya saat ditemui di lokasi, Senin (29/7/2025).
Kerusakan yang terjadi berupa amblesnya tepi jalan dan retakan aspal yang cukup dalam.
Selain mengganggu kenyamanan, kondisi ini juga sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan yang melintas.
Terutama saat malam hari, karena minim penerangan.
Sejumlah warga menilai tidak ada pengawasan yang memadai dari instansi terkait saat pengerjaan dilakukan dua tahun lalu.
Bahkan hingga kini, belum ada tanda-tanda perbaikan lanjutan atau tanggapan resmi dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Selatan.
“Kami sudah sering melapor, tapi tidak ada tindak lanjut. Seolah-olah dibiarkan begitu saja sampai memakan korban,” tambah warga lainnya.
Kritik juga datang dari tokoh masyarakat setempat dengan mempertanyakan kualitas proyek jalan nasional yang harusnya memiliki standar tinggi dan tahan dalam jangka panjang.
Masyarakat berharap BPJN Kalsel segera turun tangan dan mengevaluasi total pelaksanaan proyek jalan yang dinilai merugikan masyarakat tersebut.
Sebelumnya, Jalan Sungai Buluh ini bergelombang karena dikelilingi rawa-rawa.
Kemudian dilakukan perbaikan permanen.
Pengerjaannya mulai bulan Juni 2022, dan selesai pada bulan Desember 2022.
Tapi aspal tidak begitu kuat, akhirnya ada yang retak dan ambles.
Beberapa titik sudah ditambal ulang, dan ada juga yang belum.
Rambu-rambu peringatan juga tidak ada.
Editor : Eddy Hardiyanto