BANJARMASIN — Dari tempat yang nyaris dilupakan, Kebun binatang mini (KBM) Jahri Saleh kini bersiap dibenahi.
Selasa (22/7), Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin bersama komunitas pecinta satwa meninjau kondisi taman di Banjarmasin Utara tersebut.
"Hasil pantauan menunjukkan kondisi yang begitu memprihatinkan," kata Yamin.
Yamin bertekad mengembalikannya sebagai tujuan wisata sekaligus pusat edukasi satwa.
Pembenahan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari perbaikan infrastruktur dasar.
"Revitalisasi ini sangat perlu agar taman ini kembali berfungsi sebagai tempat wisata edukatif bagi masyarakat, terutama anak-anak," ujarnya.
Rencananya, tempat ini juga akan disulap menjadi ruang rekreasi keluarga yang lengkap.
Nanti bakal tersedia area kuliner, wahana bermain, hingga spot santai untuk pengunjung.
Sejumlah acara bertema satwa juga digagas untuk meramaikan kawasan tersebut. "Kami ingin menjadikan tempat ini kembali hidup dengan dukungan komunitas pecinta satwa," ucap Yamin.
Harapannya, nanti menjadi aset daerah yang mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
"Kalau tempatnya sudah nyaman, bagus, dan layak, saya yakin warga Banjarmasin tak keberatan bila dikenakan tiket masuk. Yang penting pengunjung merasa betah dan senang datang ke sini bersama keluarga," tutup Yamin.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, Yuliansyah Effendi mengatakan, perbaikan menyeluruh kemungkinan besar baru bisa dilaksanakan pada tahun 2026.
"Tahun ini kami siapkan dulu dokumen perencanaan teknis atau DED, bekerja sama dengan konsultan. Nanti akan dimasukkan dalam perencanaan APBD Perubahan 2025," ujarnya.
Meski belum final, ia memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp5 miliar.
Namun, sambil menunggu perbaikan total, sebagian area taman akan dibenahi untuk menyambut peringatan 17 Agustus dan Hari Jadi Kota.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pecinta Satwa Borneo, Agnes menyambut baik rencana kolaborasi ini.
Menurutnya, revitalisasi adalah langkah positif untuk membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap konservasi satwa lokal.
"Ini penting untuk membentuk pola pikir yang peduli terhadap makhluk hidup. Kami juga akan membentuk jaringan komunitas pecinta satwa yang lebih luas untuk bersama-sama menghidupkan kembali taman ini," ungkap Agnes.
Sebab, taman satwa merupakan sarana edukasi yang bisa membangun empati terhadap satwa dan alam sekitar.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief