BARABAI - Komisi I DPRD Hulu Sungai Tengah (HST) menyoroti rencana pembangunan UPT Bahasa Internasional Murakata Language and Culture Center (MLCC).
Ketua Komisi I, Yajid Fahmi menjelaskan tantangan utamanya bukan soal alokasi anggaran.
Namun yang berat adalah bagaimana caranya menggaet minat masyarakat untuk mengikuti kursus bahasa tersebut.
"Bahasa Inggris khususnya, ini menjadi penting dalam kerangka globalisasi. Tapi meyakinkan masyarakat atau wali murid untuk bisa menitipkan anaknya di UPT ini tentu menjadi PR panjang," katanya, Jumat (11/7/2025).
Namun, politisi Nasdem itu optimis dengan dukungan semua pihak, tantangan ini bisa dihadapi.
Jika ini berhasil, maka sektor pendidikan di HST bisa menjadi mentor bagi instansi lain agar HST unggul dibanding kabupaten lain.
Ia menganalogikan seperti sebuah kesuksesan dimulai dari sebuah keberanian untuk melakukan sesuatu atau memulai langkah.
"Tapi tentu harus berdasarkan perhitungan yang rasional," ungkapnya.
Dinas Pendidikan HST sebagai mitra Komisi I diminta untuk menghitung dan mengalkulasi dari segi efektivitas dalam rangka meningkatkan strata pendidikan di HST.
Memang, hadirnya UPT Bahasa ini diharapkan bisa mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Tapi ada yang lebih penting yakni mempertimbangkan secara utuh agar anggaran yang dialokasikan tidak sia-sia.
"Pada prinsipnya kami di Komisi I akan tetap mendukung program ini. Dengan catatan upaya ini rasional. Mumpung belum keputusan final, harapannya kalkulasi dulu secara maksimal agar apa yang dicita-citakan bisa tercapai," tegasnya.
Pihaknya akan terus mengawasi dan mengingatkan kepada Dinas Pendidikan HST bahwa langkah berani dalam membangun UPT Bahasa perlu perhitungan target yang diinginkan.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan mulai merealisasikan pembangunan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Internasional Murakata Language and Culture Centre (MLCC) dengan anggaran hingga Rp 4 miliar.
Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar menjelaskan persiapan awal dimulai dengan pembuatan sistem seperti website, standar operasional prosedur, dan pembangunan sarana prasarana berstandar internasional.
"Konsep sarana prasarana dari Briton (Briton English Education, red). Mereka menyiapkan konsep ukuran kelas, aula dan lab. Tahun ini, sarpras kita penuhi semuanya," ujar Anhar, Kamis (10/7/2025).
Pemenuhan sarana prasarana dibagi menjadi dua tahap.
Di APBD murni 2025 dengan anggaran Rp 2,2 miliar untuk ruang kelas didahulukan.
Sementara di APBD Perubahan 2025 akan membangun aula, mini kafe, dan musala. "Fungsinya saat orang tua menunggu anaknya bisa sambil santai. Atau dijadikan tempat kerja untuk siapapun yang berkunjung," jelasnya, mengenai konsep mini kafe yang menjadi syarat dari Briton English Education.
Anhar menghitung untuk membangun UPT secara keseluruhan diperlukan biaya Rp 3-4 miliar, belum termasuk interior.
Bangunan ini akan dibuat dua lantai dengan desain arsitektur modern yang sudah rampung.
Lokasi UPT Bahasa ditetapkan di eks SD Negeri Bukat di Jalan H. A. Syafawi Murakata RT.6 RW.II Desa Bukat, Kecamatan Barabai.
Tempat ini sebelumnya telah direnovasi dengan anggaran Rp 1,4 miliar sebagai Rumah Singgah, namun tidak beroperasi.
"Kami menargetkan UPT Bahasa ini bisa beroperasi tepat di Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 mendatang," pungkasnya.