Mereka berhasil masuk dalam daftar 20 tim terbaik dunia berkat inovasi alat pemantau kualitas air sungai.
Inovasi yang mereka kembangkan diberi nama AKURAT, singkatan dari Alat Ukur Keasaman Air Terpadu.
Alat ini dirancang untuk mengukur tingkat keasaman (pH) air secara real-time, dilengkapi dengan sistem peringatan dini, dan mampu mengirim notifikasi otomatis melalui aplikasi Blynk dan WhatsApp kepada masyarakat maupun petugas.
"Alat ini dibuat agar masyarakat bisa lebih mudah mengetahui kualitas air yang mereka gunakan sehari-hari. Jika pH terlalu asam atau terlalu basa, bisa berdampak pada kesehatan, lingkungan, bahkan kegiatan ekonomi seperti perikanan," jelas Suhada, guru pembimbing tim, Rabu (9/7).
Proyek AKURAT mulai dikembangkan sejak akhir 2024 oleh empat siswa, yakni Ahmad Hasan, Keila Moh. Aqilqa, Mustika, dan M. Rizky Aditya. Mereka dibimbing oleh Suhada, serta didampingi dua guru lainnya, Dasprianti dan Izuddin Syarif. Kegiatan ini turut didukung oleh komunitas Light Community.
Meski berasal dari sekolah kecil di daerah, tim ini menunjukkan dedikasi tinggi. Proses pengerjaan dilakukan di luar jam pelajaran, termasuk saat hari libur.
Untuk diketahui pembaca Radar Banjarmasin, Ciena Solution Challenge yang diselenggarakan oleh Digital Promise, adalah sebuah lembaga nirlaba yang didukung oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat.
Kompetisi ini mengajak siswa dari berbagai negara untuk merancang solusi berbasis teknologi yang memberi dampak sosial nyata.
Pada 2025, kompetisi ini diikuti 62 tim dari 24 negara. Electriciteam mewakili Indonesia dalam sesi YouthMade Festival dan tergabung dalam grup bersama peserta dari Turki, India, Lebanon, dan Filipina.
Presentasi proyek dilakukan secara daring pada 6 Mei 2025 pukul 21.00 WITA. Meski menghadapi tantangan perbedaan waktu, tim mampu menyampaikan proyek dengan baik di hadapan juri dan peserta dari berbagai negara.
Selain masuk dalam daftar 20 tim terbaik, Electriciteam juga meraih penghargaan Best Application of Technology to Benefit Society.
Plt Kepala SMKN 1 Paringin, Syahruddin, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan yang diraih tim bukan hanya membanggakan sekolah, tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berinovasi.
"Yang terpenting adalah kemampuan siswa melihat masalah di sekitar dan berani mencari solusinya dengan pendekatan teknologi dan kolaborasi," ujarnya.
Ia berharap capaian ini bisa menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan inovatif. Pihak sekolah juga berkomitmen memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi dan terlibat dalam proyek nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Electriciteam sendiri berharap inovasi AKURAT bisa terus dikembangkan agar ke depan dapat diterapkan secara luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Balangan.
Editor : Sutrisno